Selasa, 21 Agustus 2012

Langkah-langkah Menuju kematian

Sumber informasi yang pasti benar dan tidak berubah sepanjang masa hanya datang dari Dzat Pencipta, Allah swt, berupa wahyu-wahyu-Nya yang tertuang di dalam Al Qur’an. Tidak ada campur tangan sedikitpun dari manusia untuk merubah atau merekasanya. Tidak ada keraguan sedikitpun perihal kebenarannya. Petunjuk bagi orang yang bertaqwa. Allah swt berfirman, “Alif laam miin. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” Al Baqarah : 1-2
Informasi tentang perjalan hidup seorang anak manusia dengan jelas digambarkan Allah swt di banyak tempat di dalam Al Qur’an. Yang secara jelas menunjukkan bahwa manusia ini menapaki umurnya, menjalani hidupnya untuk menuju sebuah kematian. Setiap bani Adam akan mengalaminya, mukminkah ia atau munafik atau orang kafir.

Seorang penyair mengatakan :
Sesungguhnya kamu adalah rangkaian dari hari-hari
Jika satu hari berlalu, maka jatah hidup kamu berkurang
Sampai akhir ajal menjelang
Perjalanan menuju kematian ini diinformasikan Allah swt dalam firman-Nya :
Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami berbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, Maka apabila dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya bekata kepadanya: “Jadilah”, Maka jadilah ia.”
Al Mu’min : 67-68.
Ayat yang senada dengan ini disebutkan dalam surat Al Hajj : 5-8

” Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah,Dialah yang haq. Dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur. Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa Kitab (wahyu) yang bercahaya.”
Subhanallah, gambaran perjalanan seorang anak manusia yang sangat detail dan menakjubkan.
Ujung dari perjalanan seorang manusia di dunia ini adalah kematian. Kematian selalu mengintai manusia. Suka tidak suka, mau tidak mau setiap manusia pasti akan mengakhiri hidupnya. Sudah banyak saudara-saudara kita yang meninggalkan dunia ini satu demi satu.
Kematian adalah sebuah kepastian. Namun bagaimana kita mati, itu adalah pilihan. kita tinggal pilih, mau meninggal dalam kondisi husnul khatimah atau su’ul khatimah, wai iyadzubillah. Karena itu persoalannya adalah: Bagaimana kondisi kita saat ajal menjelang ? Bagaimana seorang mukmin mengakhiri hidupnya ? Bagaimana orang munafik dan orang kafir menghembuskan nafas terakhirnya ?
Kematian adalah tahapan yang paling sulit dalam kehidupan setiap manusia. Kondisi ini barbanding sama dengan baik atau buruknya seseorang dalam hidupnya. Allah swt berfirman : ”Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” Qaf : 19
Dalam hadits sahih Rasulullah saw menegaskan :
قال: صلى الله عليه وسلم في الحديث الصحيح: (إن للموت سكرات)
”Sungguh kematian itu disertai sekarat”. HR. Al Bukhari (Tafsir Al Qurtubhi, Juz 6, Hal 133)
Sakaratul maut adalah kondisi yang sangat berat dan dahsyat bagi setiap manusia. Tak terkecuali Rasulullah saw pun menghadapi hal yang sama. Namur beliau mendapatkan penjagaan dan pemeliharaan langsung dari Allah swt.
عن عائشة أيضاً قالت : « لقد رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو بالموت وعنده قدح فيه ماء وهو يدخل يده القدح ثم يمسح وجهه بالماء ثم يقول : اللهم أعني على سكرات الموت »
Dari Aisyah ra berkata, ”Saya melihat Rasulullah saw ketika maut menjelang, sedangkan di dekatnya ada tungku berisikan air, kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam tungku itu, lalu mengusap wajahnya dengan air sambil berdo’a: ”Ya Allah, tolong saya saat menghadapi sakaratul maut.” HR. Al Hakim
Saking beratnya sakaratul maut itu, Rasulullah saw mengeluarkan keringat dingin di keningnya yang mulia. Bahkan Fatimah, putri Rasulullah swt yang berada di dekat ayahnya merasakan merinding ketika sakaratul maut itu datang menjemputnya.
Para ulama menyimpulkan tanda keluar keringat dingin menunjukkan seseorang itu malu kepada Allah swt saat hendak perjumpa dengan-Nya, lantaran tidak sebanding karunia yang Allah berikan kepadanya dengan ketaatan yang ia persembahkan kepada-Nya. Atau keringat dingin itu pertanda pertaubatan yang sebenarnya dari seorang anak manusia.
Saat sakaratul maut inilah perjuangan yang sangat menentukan nasib seseorang. Ketika itu pertaruangan antara pasukan setan dan para Malaikat berkecamuk, sampai-sampai Malaikat Jibril turun langsung membantu menyelamatkan orang shalih.
Dikisahkan, bahwa Imam Ahmad bin Hambal saat mengalami sakaratul maut, ditalkin oleh anaknya untuk bersyahadah. Namun sang Imam mengatakan tidak, berkali-kali kondisi itu sampai akhirnya ia tak sadarkan diri. Ketika siuman, sang anak bertanya: Kenapa ayah menolak untuk mengucapkan kalimatud tauhid ? Ayahnya menjawab, Sungguh setan-setan berebut memperdaya saya untuk tidak bersyahadah. Sampai-sampai di antara setan-setan itu ada yang menggigit jari-jari kaki saya.
Sebagian ulama tafsir ketika menafsirkan surat Fushshilat ayat 30, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” turunnya para malaikat termasuk malaikat Jibril membantu meringankan proses sakaratul maut orang shalih melawan tipu daya setan.
Gambaran beratnya proses sakaratul maut juga diibaratkan dengan hunusan pedang dan tajamnya gergaji. Rasulullah saw bersabda :
وروي: (إن الموت أشد من ضرب بالسيوف ونشر بالمناشير).
”Sesungguhnya kematian itu lebih dahsyat dari sabetan pedang dan lebih pedih dari potongan gergaji” (Tafisr Al Qurthubi, Jilid 17, hal 13)
Nabiyullah Isa alaihissalam juga mengajarkan do’a kemudahaan saat sakaratul maut kepada hawariyyun –para pendukungnya-.
وقال عيسى بن مريم: (يا معشر الحواريين أدعوا الله أن يهون عليكم هذه السكرة) يعني سكرات الموت.
Nabi Isa berkata : ”Wahai para pendukungku, berdoa’alah kepada Allah agar meringankan sakaratul maut kalian.”
Dalam do’a-do’a yang sering kita lantunkan, kita meminta dengan kerendahan hati ”Ya Allah, kami memohon kepada Engkau keselamatan dalam agama, kesehatan badan, keberkahan rizki, taubat sebelum ajal, kasih sayang saat ajal, ampunan setalah mati. Ya Allah, mudahkanlah bagi kami saat sakaratul maut menghadap, ampunan ketika hari penghitungan, dan selamat dari api neraka.”
Semoga kita diwafatkan oleh Allah swt dalam kondisi kening mengeluarkan keringat dingin sebagai wujud pertaubatan sejati dan penerimaan Allah swt insya Allah, amin ya Mujibas sa’ilin. Allahu a’lam

Duhai yang memisahkan orang-orang tercinta
Duhai rumah dunia, aku pasti meninggalkanmu
Duhai yang menggrogoti hari-hari, ada apa dengan angan-anganmu
Duhai sakaratul maut yang pasti terjadi, kenapa kau masih tertawa
Kenapa kau tidak menangis, menangisi dirimu
Jika tidak, kepada siapa kau menangis ?
Ingat, adakah yang hidup tanpa direnggut kematian
Namun, keyakinan mana yang sekarang ini ditutupi keraguan ?

dakwatuna.com - Penggalan syair di atas dimuat di dalam buku Al Isti’dad lilmauti wasualul qabri menggambarkan peristiwa yang pasti akan menggunjang setiap manusia. Yaitu kematian. Kematian yang pasti terjadi, namun sering terlupakan dan dilupakan. Padahal kematian sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw semestinya menjadi nasehat yang mampu menyentuh qalbu yang paling dalam, ”Kafa bilmauti wa’idha, Cukuplan peristiwa kematian seseorang menjadi penasehat.”
Bahwa semua kita pasti akan mengakhiri didupnya adalah sebuah kepastian. Allah swt berfirman :
”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” Ali Imran:185
Saat sakaratul maut menjelang, saat itulah kondisi dahsyat dan mengerikan dialami setiap orang. Diriwayatkan dari Makhul, dari Rasulullah saw, beliau bersabda : ”Sungguh jika satu lembar rambut dari rambut-rambutnya orang yang meninggal dunia menimpa penduduk langit dan bumi, niscaya mereka semua akan mati dengan izin Allah swt.”
Diriwayatkan bahwa nabi Ibrahim as ketika meninggal dunia, Allah bertanya kepadanya: ”Apa yang kamu rasakan ketika ajal menjelang ? Ia menjawab : ”Rasanya seperti ada sebatang besi yang bergerigi tajam di dalam daging basah, kemudian besi itu ditarik dengan keras.” Allah berfirman: Aku telah meringankan ajal kepadamu.”
Dalam riwayat yang lain, nabi Musa as ditanya Allah swt bagaimana kondisi ia saat ajal menjelang ? Ia menjawab : ”Saya seperti seekor domba hidup yang sedang dikuliti oleh tukang cincang.”
Kondisi dahsyat itulah yang menyebabkan para sahabat radhiyallahu anhum saling bertanya di antara mereka. Semangatnya adalah agar mereka dapat mengakhiri hidupnya dengan cara yang paling baik, yaitu husnul khatimah.
Adalah Umar ra bertanya kepada Ka’ab tentang maut. Ka’ab menjawab : ”Ia ibarat ranting yang banyak durinya, dimasukkan ke dalam tenggorokan seseorang, duri-duri itu menyayat-nyatat dinding tenggorokan. Kemudian ranting berduri itu ditarik sekeras-kerasnya.”
Sahabat Ali ra ketika memobilisasi pasukan perang memberikan pidato pelepasan pasukan, ia berkata: ”Jika kalian tidak terbunuh, kalian akan tetap mati, sungguh aku bersumpah, demi Dzat yang jiwa Muhamamd berada di dalam genggaman-Nya, seribu tusukan pedang jauh lebih ringan dari pada meninggal di atas dipan.” (Al Isti’dad lilmaut wa sualul qabri, Jilid 1, Halaman 7)
Sakaratul Maut Seorang Muslim
Kondisi sakaratul maut seseorang sesuai dengan kebaikan atau keburukannya dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Bagi seorang muslim, sakaratul maut akan menjadi titik awal kenikmatan abadi di alam berikutnya.
Ketika sakaratul maut itu, datanganlah beribu-ribu Malaikat. Mereka berhenti sejauh mata memandang. Hanya ada dua Malaikat yang mendekat kepadanya, sambil membawa haanut, semacam kain kafan yang sangat halus dan wangi. Dikatakan kepadanya:
”Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhoi, masuklah dalam golongan-golongan hamba-hamba-Nya, dan masuklah ke dalam surga-Nya.”
Kemudian ruhnya dicabut dan dibungkus dalam kain haanut tersebut, dibawa kembali ke barisan ribuan Malaikat yang sudah tidak sabar menanti memegang haanut tersebut. Semua Malaikat memegangnya sekalipun sekelebatan, karena saking banyaknya jumlah para Malaikat berebut.
Ruh itu diiring mereka ke atas langit. Dikatakan di sana, ”Ruh siapa ini? Harumnya semerbak mewangi. Dijawab, ”Ini ruh Fulan bin Fulan bin Fulan” dan disebutlah namanya. Kemudian Allah swt memerintahkan kepada Malaikat: ”Catat ia termasuk ahlul yamin, wa ash habul illiyyin, golongan kanan dan yang memperoleh derajat tinggi.”
Kemudian ruh itu dikembalikan ke jasadnya saat ia dikuburkan. Ketika itu ia mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan kubur dengan fasih dan lancar. Karenanya datanglah pemuda ganteng atau gadis cantik. Ketika ditanya, siapa kamu? Ia menjawab : ”Ana ’amalukas shalih ; Akulah amal shalih kamu saat di dunia” (At Tadzkirah lil Imam Al Qurthubi)
Dalam riwayat lain Rasulullah saw bersabda:
عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: (إن العبد الصالح ليعالج الموت وسكراته وإن مفاصله ليسلم بعضها على بعض تقول السلام عليك تفارقني وأفارقك إلى يوم القيامة).
”Sesungguhnya hamba yang shalih ketika menghadapi sakaratul maut sendi-sendinya saling memberi salam satu kepada yang lainnya, berkata: ”Keselamatan atasmu, kamu meninggalkanku dan aku meninggalkanmu sampai bertemu kembali di hari kiamat.”
Sakaratul Maut Sang Pendosa
Berbeda dengan seorang muslim yang shalih, mendapatkan kehormatan saat ruhnya menghadap Allah swt., seorang pendosa atau ahli maksiat akan diserbu para Malaikat. Hanya dua Malaikat yang mendekat dengan membawa kain kafan yang sangat jelek dan baunya minta ampun. Dikatakan kepadanya dengan sangat kasar: ”Keluarlah kamu menuju kemurkaan Allah, enyahlah kamu ke neraka yang menyala-nyala.”
Saat itulah nyawanya dicabut dengan sangat keras, sekeras-kerasnya, kemudian dijadikan lemparan, tiada yang sudi membawanya. Nyawa itu tidak diperkenankan mendekati langit. Ditanyakan ruh siapa ini ? Dijawab, ”Ruh Fulan bin Fulan bin Fulan, dan disebutlah namanya”. Kemudian dibacakan ayat :
”Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.” Al A’raf:40
Allah swt memerintahkan untuk dicatat dalam golongan ashhabul yasar wa ahlus sijjin, golongan kiri, golongan yang menempati tempat paling hina.
Nyawanya kemudian dikembalikan ke jasadnya saat dalam kuburan. Ketika itu ditayakan kepadanya : Siapa Tuhan-mu ? Siapa Nabimu ? Apa pedomanmu ? Dan pertanyaan-pertanyaan kubur lainnya. Ia hanya bisa menjawab : hah… hah… hah…
Datanglah seseorang yang sangat jelek mukanya lagi menakutkan. Ia bertanya, Siapa kamu ini ? Ia menjawab: ”Ana ’amalukas suu’, saya amal jelek kamu saat di dunia.” Wal iyadhu billah.
Allah swt berfirman: “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” Al An’am:93
Ayat di atas di tafsirkan oleh Imam Ath Thobari dengan ayat yang lain dalam surat Muhammad : 27-28
“Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul-mukul muka mereka dan punggung mereka?. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan karena mereka membenci keridhaan-Nya, sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (Tafsir Ath Thobari, Jilid 11, Halaman 537)
Diriwayatkan bahwa nabi Ibrahim as berkata kepada Malaikat maut:
ويروى أن إبراهيم الخليل قال لملك الموت هل تستطيع أن تريني الصورة التي تقبض فيها روح الفاجر؟ قال أتطيق ذلك؟ قال بلى فأعرض ثم التفت فإذا هو رجل أسود الثياب قاتم الشعر منتن الريح يخرج من فيه ومناخره لهب النار والدخان فغشى على إبراهيم ثم أفاق وقد عاد ملك الموت إلى صورته الأولى فقال يا ملك الموت لو لم يلق الفاجر إلا صورة وجهك لكان ذلك حسبه.
“Apakah Engkau bisa memperlihatkan kepada saya sosok Engkau ketika mencabut nyawa orang pendosa ? Ia menjawab: “Apakah kamu kuat menahan ? Ibrahim menjawab: Ya. Kemudian Malaikat berpaling dan kembali lagi menghadap, ketika itu sosok Malaikat berubah menjadi laki-laki berbaju hitam, rambut yang mengerikan, bau yang busuk, api dan asap keluar dari mulutnya. Seketika Ibrahim pingsan tidak sadarkan diri. Kemudian Malaikat kembali ke wujud semula. Sewaktu Ibrahim siuman ia berkata: “Wahai Malaikat maut, jika seorang pendosa melihat wajah Engkau saja, pasti cukuplah itu menakutkan baginya.”
Semoga Allah swt mewafatkan kita dalam kondisi husnul khatimah, termasuk golongan orang-orang shalih yang mendapatkan ampunan dan ridha-Nya, amin. Allahu a’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar