Sabtu, 05 Januari 2013

Ebook Fisika Dasar oleh M. Satriawan

Ebook gratisan pada kesempatan kali ini ingin membagikan ebook gratis fisika dasar universitas oleh M. Satriawan seorang dosen UGM. Ebook ini saya peroleh dari database scribd.com. Ebook gratisan ini adalah requesan dari riantihusna di google grups PEMBURU EBOOK GRATIS. Sebenarnya requesannya tidak terlalu lengkap judulnya gak tau dia minta ebook fisika SMP, SMA, atau Universitas. Nah, karena

Jumat, 04 Januari 2013

3 Kisah Smurf

Download:3 Kisah Smurf.PDF
Berisi:
- Smurf Hitam
- Smurf Terbang
- Si Penculik Smurf



Bahasa: Indonesia

Kamis, 03 Januari 2013

Kondisi Suriah Terkini

Wawancara Time Dengan Jabhah al-Nusra:Washington Tidak Serius Mencopot Assad

“Kami melihatnya seolah-olah Amerika ingin memberikan rezim waktu untuk beristirahat, untuk memberikan kesempatan agar tetap berkuasa selama masih bisa”
Majalah Time (28/12) melansir sebuah wawancara dengan salah seorang petinggi kelompok Jabhah Nusrah, sebuah kelompok jihad di Aleppo, Suriah bernama Abu Adnan, 35 tahun.
Berikut beberapa kutipan wawancaranya.
Ketika dikatakan bahwa Amerika telah menjadikan kelompoknya, Jabhah Nusrah, sebagai kelompok teroris, dia menjawab bahwa hal itu bukan masalah baginya. “Kami sudah tahu cara-cara Barat dan penindasan yang mereka lakukan. Kami tahu penindasan oleh Dewan Keamanan PBB, kebohongan masyarakat internasional. Itu bukan berita baru. Itu semua tidak berarti apa-apa bagi kami. ”
Amerika secara resmi melabeli Jabhah al-Nusra sebagai sebuah kelompok teroris yang merupakan nama lain dari al-Qaeda di Irak sejak tanggal 11 Desember 2012 dan mengatakan bahwa sejak November 2011 kelompok ini mengaku bertanggungjawab atas “hampir 600 serangan teroris, membunuh dan melukai ratusan orang Suriah.” Kelompok ini tidak dikenal hingga akhir Januari 2012, ketika diumumkan pembentukannya, meskipun Abu Adnan mengakui bahwa kelompoknya telah aktif berbulan-bulan sebelumnya. Sejak saat itu, kelompok itu telah menjadi salah satu kekuatan pertempuran paling efektif melawan Presiden Bashar Assad, dengan melakukan beberapa serangan paling berani melawan rezim.
Sedikit yang diketahui tentang kelompok ini kecuali fakta bahwa sekarang mereka ingin mendirikan sebuah negara Islam. Tapi kedisiplinan Jabhah al-Nusra dan reputasinya di medan perang dikenal diantara kelompok pejuang lainnya (bahkan diantara kelompok pejuang yang sekuler sekalipun) yang tumbuh sejalan dengan keberanian serangannya, sehingga banyak anak muda yang ingin bergabung. Jabhah al-Nusra tidak berbeda ideologi dengan kelompok-kelompok Islam lain seperti Ahrar al-Sham dan Liwa al-Tauhid. “Kami semua adalah Muslim Sunni,” kata Abu Adnan, “sehingga tidak ada perbedaan.” Menurutnya, perbedaanya adalah pada tipe para pejuang yang diterima Jabhah al-Nusra untuk masuk ke dalam barisannya: “Kami sangat memperhatikan individu para pejuang, kita memperhatikan kualitas, bukan kuantitas”, katanya. “Para perokok. tidak bisa mendaftar. Para calon pejuang potensial harus mengikuti pembekalan agama selama 10 hari, “untuk memastikan pemahamannya tentang agama, moral, dan reputasinya.” Kemudian diikuti dengan 15 hingga 20 hari pelatihan militer.
Ketika Amerika secara terang-terangan menjadikan kelompok ini sebagai musuhnya, tampaknya hal ini malah lebih menarik bagi banyak orang yang telah lama melihat AS di kawasan itu dengan curiga. Washington telah mengkalkulasi bahwa kelompok ini terlalu berbahaya. Masalahnya adalah, banyak kelompok oposisi di Suriah yang berpikir sebaliknya.
Serangan udara nyaris menghancurkan mobil yang dikendarai oleh Abu Adnan. Dia dan rekan-rekannya menganggap hal ini sebagai upaya pembunuhan.
Wawancara berlangsung di sebuah kota di utara Suriah, di pedesaan di luar Aleppo.  Di sebuah ruangan kecil dengan jendela kecil yang hampir tidak ada cahaya masuk, sementara sedang mendung di luar.
Kami duduk di antara kotak-kotak berisi susu dan kantung-kantung selimut dan pakaian musim dingin untuk didistribusikan.
“Amerika telah menganggap kami teroris karena ada beberapa taktik kami yang meniru cara al-Qaeda di Irak, seperti penggunaan bahan peledak dan bom mobil,” kata Abu Adnan.”Kami tidak seperti al-Qaeda di Irak, kami bukan dari mereka.”
Jabhah al-Nusra tidak menghitung jumlah veteran perang Irak dalam perang di Suriah, yang membawa keahlian – terutama pembuatan bahan peledak buatan (IED). Namun, Jabhah al-Nusra bukanlah satu-satunya kelompok yang menggunakan IED karena kelompok-kelompok lainnya – yang disebut moderat di bawah payung Tentara Pembebasan Suriah (FSA) juga diduga menggunakan pelaku bom bunuh diri.
Sebagaimana Jabhah al-Nusra, sejumlah kelompok Islam lainnya juga ingin mendirikan sebuah negara Islam di Suriah, sementara unit-unit pemberontak sekuler semakin berbicara  mengutuk kelompok minoritas, khususnya para anggota sekte Alawi. Namun,  hanya Jabhah al-Nusra yang telah ditetapkan sebagai “teroris” oleh AS yang mengakui masih berusaha untuk memahami unsur-unsur bersenjata pada berbagai konflik di Suriah.
Jika pemberian label teroris itu dimaksudkan untuk mengisolasi Jabhah al-Nusra, tampaknya AS malah telah melakukan hal yang sebaliknya karena telah benar-benar meningkatkan reputasinya di antara beberapa kelompok pejuang Suriah. Protes nasional di Suriah pada tanggal 14 Desember, misalnya, menggunakan slogan “Terorisme di Suriah hanya yang dilakukan Assad”. Puluhan kelompok pejuang telah secara terbuka menyatakan, “Kami semua adalah Jabhah al-Nusra,” sementara pimpinan kelompok oposisi politik di pengasingan telah mengutuk label teroris itu.
Abu Adnan  percaya bahwa Washington tidak serius untuk mencopot Assad. “Kami melihatnya seolah Amerika ingin memberikan rezim waktu untuk beristirahat, untuk memberikan kesempatan kepadanya untuk tetap berkuasa selama masih bisa,” katanya. “Rezim telah melakukan tindakan terorisme selama dua tahun dan Amerika tidak melakukan apa pun, jadi mengapa mereka cepat tanggap untuk melawan kekuatan tempur di Suriah, memberinya label organisasi teroris? Apakah mereka lupa rezim Assad? ”
Inti pemikirannya adalah gagasan bahwa Barat ingin mempertahankan status quo Israel, termasuk menjaga para pemimpin seperti Assad  ketimbang mengambil resiko berkuasanya kelompok Islam di Damaskus. Presiden Assad dan mendiang ayahnya dan pendahulunya Hafez Assad memastikan bahwa Dataran Tinggi Golan, yang diduduki negara Yahudi, adalah garis depan Arab-Israel yang paling tenang selama puluhan tahun meskipun ada retorika menakutkan dari rezim Assad.
Sebagian kelompok pejuang menganggap pelabelan ini sebagai fitnah, atau perpecahan internal, dalam jajaran kelompok pejuang, atau digunakan sebagai alasan untuk sama sekali menghindari mempersenjatai para pejuang Suriah, mengingat operasi yang banyak terjadi adalah serangan bersama antara kelompok-kelompok Islam seperti al-Jabhah Nusra dan unit sekuler FSA. Jadi akan sangat sulit bagi Barat untuk menyediakan senjata dan memilih kelompok yang diinginkan untuk bekerja sama dan pada saat yang sama memastikan bahwa senjata tidak akan juga jatuh ke tangan Jabhah al-Nusra, kecuali secara jelas ingin bahwa kelompok-kelompok yang disukai itu akan melawan kelompok-kelompok milisi Islam.
Menurut Abu Adnan Jabhah al-Nusra tidak menunggu senjata dari masyarakat internasional. Sebuah serangan baru pada sebuah pos rezim di Daarat Izze di pedesaan Aleppo memberikan lebih banyak senjata “dari apa yang sebuah negara dapat berikan kepada kita,” katanya. Para pejuang asing juga merupakan sumber dukungan, baik secara fisik (dalam hal kehadiran mereka) maupun materi (dana).
Sementara itu, organisasi ini mempertahankan informasi tentang dirinya sendiri dengan menyebarkan pernyataan-pernyataan dan video melalui media sayapnya yakni  al-Manarah al-Bayda. Menurutnya  kelompoknya tidak peduli tentang pers karena hal itu bukan prioritas. “Prioritas kami adalah melawan rezim.”
Jabhah al-Nusra dipimpin oleh seorang pria dengan nama samaran Abu Mohammad al-Golani (Golani merujuk pada Dataran Tinggii Golan milik Suriah yang diduduki Israel).
Abu Adnan tidak akan mengungkapkan informasi apapun tentang orang-orang yang ditunjuk oleh Departemen Keuangan AS dan mengatakan al-Golani tetap sebagai pemimpin Jabhah. Identitas asli Al-Golani ini tetap menjadi rahasia, bahkan diantara para pemimpin kelompok yang sama-sama militan Islam di Suriah. Pada pertemuan baru-baru ini para pemimpin kelompok Ahrar al-Sham, Suqoor al-Sham, Liwa al-Islam, al-Jabhah Nusra dan beberapa unit lain membahas pembentukan koalisi pan-Islam Suriah,
Mengenakan celana jeans dan sweater warna abu-abu terang, jaket kulit hitam dan sepatu hitam, Abu Adnan terlihat tenang dan sopan namun ia merasa tidak nyaman dengan beberapa pertanyaan seperti rincian struktur, yang menurutnya pertanyaan ini memiliki semangat pertanyaan dari lembaga intelijen.
Menurut Abu Adnan, Jabhah al-Nusra telah memperluas kehadirannya di seluruh Suriah. Setiap daerah memiliki pemimpin, seorang komandan militer dan pemimpin syariat, katanya. Di masa lalu, sebagian besar anggota Jabhah menutup diri, walaupun berbaur dengan para pejuang lainnya namun tidak berinteraksi dengan masyarakat setempat.
Namun dalam sebulan terakhir atau lebih, mereka perlahan-lahan berubah. Jabhah al-Nusra adalah salah satu dari beberapa kelompok yang pada akhir November menolak kelompok dukungan Barat yakni sekelompok orang buangan politik Suriah yang diangkat sebagai Koalisi Nasional. Sebaliknya, kelompok milisi menyatakan niatnya untuk membentuk sebuah negara Islam di Aleppo. “Mereka yang tinggal di pengasingan berpikir bahwa kami akan membuat takut Barat dan Eropa jika kami adalah negara Islam. Kami belum sebuah negara Islam sekarang, dan apa yang telah negara-negara itu tawarkan selama setahun dan sembilan bulan lalu? Mengapa Barat selama setahun dan sembilan bulan tidak memberi apa-apa bagi revolusi? ”
Kelompok minoritas, menurutnya, tidak perlu takut. “Nabi SAWpunya tetangga Yahudi,” katanya. “Siapapun yang tidak menindas, atau berpartisipasi dalam memerangi rakyat, akan mendapatkan hak-haknya dan kewajiban-kewajibannya.” Namun, mereka yang tangannya bergelimangan darah, apakah itu kelompok minoritas atau bukan, akan diberikan ganjaran. Abu Adnan membela video yang diposting baru-baru ini dimana digambarkan salah seorang anggota al-Nusra Jabhah menembak mati loyalis rezim bersenjata.
Menurutnya, sebenarnya mereka bisa menjangkau dengan mudah orang-orang yang menyebut mereka teroris yang tinggal dekat perbatasan Turki. “Kami berjuang di Suriah, dan siapa yang kita perangi? Pasukan keamanan, shabiha  [yang juga dinggap teroris oleh AS] dan mereka yang membantu rezim. ”
Pada saat mereka mengumumkan rencana untuk mendirikan sebuah negara Islam, Jabhah al-Nusra juga telah mulai melakukan upaya bantuan di lingkungan kota untuk mencari pijakan kuat di masyarakat setempat. Mereka telah mendistribusikan pasokan yang sangat dibutuhkan mulai dari bensin, solar, hingga tepung untuk membuat roti. “Kami menjaga harga roti pada kisaran 15 lira [sekitar 21 sen dollar AS], yang merupakan harga yang benar,” kata Abu Adnan, sambil menambahkan bahwa pelanggaran atas hal itu akan dihukum sesuai dengan syariat Islam.

Penghinaan Terhadap Islam

Kepala Babi Diletakkan di Luar Pusat Dakwah Islam di Leicester

Tiga orang ditangkap di Leicester karena menaruh kepala babi di sebuah tempat di mana kelompok Islam menghadapi protes atas rencana mereka membuka pusat dakwah Islam di bekas sebuah gedung pandu.
Sebagaimana yang dilaporkan oleh www.guardian.co.uk  (28/12) tiga orang telah ditangkap setelah meletakkan kepala babi di luar sebuah gedung pusat komunitas umat Islam yang juga dipakai sebagai tempat beribadah di wilayah Leicester yang telah terlihat meningkatnya aktivitas kelompok sayap kanan dalam beberapa bulan terakhir.
Kepala babi, yang merupakan penghinaan terhadap umat Muslim karena merupakan binatang haram, ditemukan oleh para jamaah dari kelompok As Salaam di pusat dakwah Islam di Thurnby Lodge pada jam 7.30 pagi Day. Seorang wanita berusia 40 tahun dan dua pria, berusia 37 dan 46, ditangkap pada hari Rabu.
Insiden itu terjadi di tengah ketegangan atas rencana kelompok muslim untuk membuka pusat dakwah Islam di sebuah bekas gedung pandu yang bersebelahan letaknya dengan pusat olah raga masyarakat setempat. Telah terjadi protes berbulan-bulan, termasuk adanya keterlibatan Liga Pertahanan Inggris (EDL) dan partai British National partai, yang pemimpinnya, Nick Griffin, mengunjungi wilayah itu pada bulan Agustus.
Imam As Salaam Mohammed Lockhat mengatakan kepada Guardian bahwa insiden itu hanya akan meningkatkan komitmen kelompok itu untuk bertahan: “Kami terkejut dan sedih dengan perkembangan ini. Hal ini sangat diskriminatif dan menyinggung agama kami… Setiap hari kami menyaksikan orang-orang berdiri di luar gedung, para pemrotes itu melontarkan penghinaan, dan pelecehan bernada rasis. Kami tidak mengharapkan hal ini terjadi namun ini hanyalah masalah waktu.. “, katanya.
Pada awalnya As Salaam diperbolehkan untuk memakai gedung itu, yang tidak lagi dipakai oleh pandu pada tahun lalu. Dikatakan bahwa pihak As Salaam merencanakan untuk menyediakan makanan, nasehat mengenai bahaya narkoba dan alkohol dan pendidikan.
Tetapi sebagian warga mengeluh bahwa gedung itu harus tersedia bagi masyarakat yang lebih luas. Protes dilancarkan terhadap As Salaam, dan sebuah kelompok yang menamakan diri Komite Tanah Yang Telupakan Milik Thurnby Lodge dan Netherhall menyerahkan 1.500 tanda tangan yang menentang rencana itu kepada dewan kota. Akibatnya, di awal bulan ini, dewan menggantung rencana konsultasi dengan As Salaam dan mengatakan keputusan akan dikeluarkan pada bulan Januari.
Lockhat mengatakan pekerjaan komunitas Islam di gedung itu akan ditujukan untuk perbaikan kehidupan semua orang dan bahwa Thurnby Lodge masih akan tersedia bagi masyarakat setempat.
Kampanye melawan As Salaam tidak hanya mempengaruhi kaum Muslim, namun juga para anggota klub bingo di Thurnby Lodge mengeluhkan intimidasi yang sama. Lockhat mengatakan para pengunjuk rasa meneriakkan kata “pengkhianat” kepada orang-orang yang berusia 70-an dan 80-an. Polisi Leicestershire mengatakan sembilan orang ditangkap sehubungan dengan protes dalam beberapa bulan terakhir.
“Kami bertindak sangat, sangat damai … Kami di sini tidak untuk merampas tanah siapa pun,” katanya. “Kami bekerja untuk masyarakat.”
Inspektur Mark Newcombe mengatakan: “Orang yang menggunakan pusat kegiatan masyarakat pada hari Rabu hanyalah sebuah kelompok Muslim lokal dan dengan mudah bisa ditarik kesimpulan bahwa kepala babi itu dimaksudkan bagi mereka, dan ini merupakan alasan kami untuk percaya bahwa hal memiliki motivasi agama”. “Kami tidak memiliki toleransi atas diskriminasi di Leicester, apakah itu termotivasi oleh ras atau agma, dan kami ingin anggota masyarakat membantu kami untuk melakukan semua hal yang kami bisa lakukan untuk menemukan mereka yang bertanggung jawab dan membawa mereka ke pengadilan”, tambahnya. (RZ)

Ketakutan Israel Terhadap Revolusi Suriah

Netanyahu dan Raja Yordania Membahas Senjata Kimia Suriah

Laporan media Israel pada hari Rabu (2/1) mengatakan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertemu secara rahasia dengan Raja Yordania Abdullah di Amman untuk membahas ancaman senjata kimia Suriah di tangan militan Islam.
Dua stasiun televisi dan sejumlah situs berita Israel mengutip dari beberapa pejabat Israel yang tidak mau disebutkan namanya, dimana mereka semua membenarkan berita yang dipublikasikan oleh surat kabar London berbahasa Arab “al-Quds”, bahwa pertemuan tersebut telah digelar. Sementara juru bicara Netanyahu menolak untuk berkomentar.
*** *** ***
Di saat Amerika berjuang keras untuk mengarang dalih (seperti dalih senajata kimia) untuk lakukan intervensi militer di Suriah di masa yang akan datang ketika upaya imperialismenya gagal, sama saja apakah intervensinya untuk memerangi secara langsung tegaknya Negara Khilafah Rasyidah di Syam, atau apakah itu untuk melindungi para anteknya dalam koalisi Suriah dari kekuatan oposisi Suriah pada saat penyerahan pemerintahan melalui proses transisi politik dengan melibatkan para penyanggah rezim sebelumnya, maka dua tetangga Suriah tampaknya benar-benar takut terhadap kemungkinan peristiwa yang akan terjadi jika Amerika gagal untuk melakukan kontrol atas masa depannya pasca jatuhnya Assad, sebab sejumlah peristiwa yang terjadi di Suriah sejauh ini menunjukkan kegagalan demi kegagalan Amerika, meskipun perpanjangan waktu yang diberikan kepada rezim Suriah belum juga berhenti.
Mereka para tetangga (tetangga yang buruk) adalah teman-teman dan sekutu para pemimpin entitas Yahudi dan pemimpin rezim Yordania. Mereka tengah dipusingkan dengan apa yang mungkin saja terjadi di antara waktu malam dan pagi. Sebab mereka sadar bahwa keberadaan mereka tergantung dengan keberadaan kekuasaan imperialis Barat yang mengontrol rezim-rezim pemerintahan yang berkuasa di kawasan Timur Tengah, termasuk rezim sekutu mereka, sekaligus penjaga dan pelindung Yahudi, yaitu rezim Basyar al-Assad, bahwa jika penggulingannya oleh tangan Islamis, dan menggantinya dengan sistem Islam, maka hal itu hakikatnya adalah awal berakhirnya bagi rezim kerajaan politik otoriter, entitas Yahudi, dan orang-orang yang berdiri di belakang mereka, yaitu negara-negara imperialis Barat.
Satu-satunya hal yang aneh dalam laporan media itu adalah apa yang disebutnya bahwa pertemuan antara Netanyahu dan Raja Yordania dilakukan dengan rahasia! Apakah Raja Yordania harus bertemu diam-diam dengan Netanyahu untuk membahas bahaya sampainya senjata kimia ke tangan militan Islam, sebagaimana yang mereka katakan; dan apakah penguasa Yordania masih bisa menyembunyikan pengkhianatannya dan persekutuannya dengan Yahudi setelah semuanya terbongkar.
Namun kami masih bertanya-tanya, apakah tokoh-tokoh Yordania dan orang-orang mukhlis di antara mereka yang memiliki kekuatan di sana akan membiarkan rezim Hasyimi bernafas sebentar ketika belenggu telah hancur, dan umat di Syam telah bebas dari belenggu imperialisme, serta mengumumkan niatnya untuk melenyapkan kroni-kroni kaum imperialis, dan mencabut entitas Yahudi hingga ke akarnya?

Rakyat Mesir Menolak Konstitusi Baru

Mayoritas Rakyat Mesir Menolak Konstitusi Baru dan Menginginkan Konstitusi Islam

Pada tanggal 25 Desember 2012 Presiden Mesir Muhammad Mursi menandatangani keputusan pemberlakukan konstitusi baru setelah menerima persetujuan mayoritas dari  minoritas pemilih, sebab mayoritas (dua pertiga) penduduk telah memboikot referendum ini. Setelah itu, Amerika mengumumkan sikapnya melalui jurubicara di Departemen Luar Negeri AS Patrick Ventrell, yang mengatakan: “Mursi sebagai presiden yang terpilih secara demokratis di Mesir, maka tugasnya adalah bertindak dengan cara yang mengakui kebutuhan mendesak untuk mengakhiri perpecahan dan membangun kepercayaan, serta memperkuat dukungan bagi proses politik.” Ia menambahkan: “Amerika selalu mendukung ideologi yang berlaku bahwa demokrasi memerlukan lebih dari sekedar mayoritas, yaitu sangat penting untuk melindungi setiap hak dalam membangun lembaga-lembaga yang membuatnya kuat dan abadi.” (American Free Press, 25/12/2012).
*** *** ***
Dari semua ini menunjukkan fakta-fakta berikut:
Pertama, Kepala Komisi Tinggi Pemilihan Umum Mesir Samir Abul Maaty mengatakan: “Konstitusi baru Mesir meraih dukungan 63,8% suara dari para pemilih yang berpartisipasi dalam referendum, sementara 36,2% suara yang mengatakan “tidak”. Ia menjelaskan bahwa “tingkat partisipasi dalam referendum sebesar 32,9%, atau sekitar 17 juta orang dari 51 juta rakyat yang memiliki hak untuk memilih.” Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Mesir tidak menaruh perhatian terhadap konstitusi ini, tidak mempercayainya dan tidak pula dengan penyusunnya, karena konstitusi itu tidak akan mengubah realitas mereka buruk, dan jika tidak, tentu masyarakat akan berbondong-bondong memberikan suaranya. Dengan demikian, konstitusi ini dianggap telah gagal, dan membuktikan bahwa ia telah gagal sejak baru mulai diberlakuan.
Kedua, mayoritas masyarakat tidak percaya bahwa konstitusi ini adalah konstitusi Islam, dan jika tidak, tentu mereka akan memberikan dukungannya dengan semua kekuatan yang dimiliki, namun faktanya mereka tidak berpartisipasi dalam referendum. Sementara mayoritas yang setuju, yaitu 63,8% dari sepertiga rakyat Mesir, yakni (32,9%) dari mereka yang berpartisipasi dalam referendum, maka mereka ini setujui setelah mereka membayangkan bahwa konstitusi ini adalah konstitusi Islam, atau ia merupakan pintu masuk bagi kedatangan Islam. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa mayoritas rakyat menginginkan konstitusi Islam. Sekiranya mereka yang memasarkan dan mempromosikan konstitusi baru itu memiliki kemauan yang tulus untuk menegakkan hukum Allah di bumi, dan mejadikannya sebagai permasalahan utamanya, niscaya mereka serius menawarkan konstitusi Islam yang berasal dari al-Qur’an dan as-Sunnah, serta ijma’ Shahabat dan Qiyas Syar’iyah, seperti konstitusi yang ditawarkan oleh Hizbut Tahrir.
Ketiga, minoritas yang menentang konstitusi tidak menentangnya bahwa ia adalah konstitusi Islam, bahkan Mohamed ElBaradei, salah seorang pemimpin oposisi, dalam sebuah tayangan video pada 20/12/201, mengatakan: “Kami mengatakan tidak untuk (menolak) konstitusi, karena kami ingin syariah.” Dan sebelumnya, ia mengatakan: “Mengurusi kepentingan umat manusia adalah bagian dari syariah (hukum Allah).” (almesryoon.com, 9/11/2012). Ini menunjukkan bahwa orang-orang seperti ElBaradei tidak bisa menentang konstitusi Islam jika ia diposisikan dengan benar. Bahkan Hamdin Shabahi salah satu pemimpin oposisi mengatakan: “Apa yang mencegah Mursi dari menerapkan syariah, sementara kekuasaan legislatif ada dalam genggamannya.” Ia berkata: “Jika Mursi melakukan hal itu, maka saya bersumpah demi Allah Yang Mahakuasa, bahwa saya akan membuat pernyataan yang mendukung keputusan presiden.” (almesryoon.com, 11/12/2012).
Keempat, melalui pernyataan jurubicara Departemen Luar Negeri AS Patrick Ventrell dimengerti bahwa ia berwasiat kepada rezim Mesir dan mendukungnya dengan kepemimpinan para anteknya yang baru, yang berada di balik pembuatan konstitusi Mesir  yang baru. Sehingga Amerika sejak awal begitu peduli dengan persoalan konstitusi ini, dan Amerika telah membahas kepentingannya dengan Mursi melalui kunjungan Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton ke Kairo pada 21 Nopember 2012, sebagaimana yang diumumkannya. Dalam hal ini, Amerika menginginkan konstitusi yang tetap mempertahankan asas-asas dan pasal-pasal berdaulat yang berdasarkan kekufuran, seperti sistem republik dan demokrasi, serta kedaulatan rakyat, bukan syara’, juga kebebasan umum yang ditambahkan sesuatu dari Islam hingga bisa menipu kelompok kaum Muslim. Dengan begitu ia akan memperkuat sistem kufur, yang pada dasarnya ia tidak berbeda dengan konstitusi 1971, yang dibuat oleh anteknya yang dibunuh, Anwar Sadat, sebagaimana ia juga tidak berbeda dari konstitusi anteknya yang pertama, Abdul Nashir, dalam hal asas dan pasal berdaulat yang mengumumkan sistem republik, bahkan Mursi bersumpah demi Allah Yang Mahakuasa untuk mempertahankannya.
Kelima, dari semua ini jelas bahwa orang-orang yang bekerja keras memasarkan dan mempromosi konstitusi baru tidak tunduk pada tuntutan rakyat, namun tunduk pada tuntutan Amerika, karena takut dan khawatir bahwa Amerika akan melengserkannya jika mereka membawa konstitusi Islam. Semua itu terjadi karena kurangnya kesadaran dan pemahaman mereka bahwa Amerika tidak dapat melindungi mereka ketika rakyat melakukan revolusi dan mengoreksinya dengan tegas atas kesalahan yang dilakukannya, seperti menetapkan konstitusi kufur yang menyebabkan penderitaan dan penindasan rakyat; Amerika juga tidak bisa melindungi anteknya, Husni Mubarak dan menendangnya dari rakyat ketika rakyat menuntut revolusi. Mereka itu tunduk pada Amerika dengan harapan bahwa Amerika merestuinya hingga mereka tetap duduk di kursi kekuasaan. Dalam hal ini mereka berpikir bahwa kekuatan seluruhnya di tangan Amerika. Mereka lupa bahwa kekuatan sebenarnya semua dalam genggaman Allah. Dia-lah yang memberikan rakyat kekuatan untuk melakukan revolusi melawan ketidakadilan, dan membawa konstitusi Islam, yang akan mendatangkan keadilan dan menghapus kezaliman, serta yang akan mewujudkan kebahagiaan bagi manusia di dunia dan di akhirat. Namun, mereka kelak akan menghadapi tuntutan yang lebih besar di sisi Allah SWT, Tuhan yang Maha Memaksa Amerika dan para agresor, dimana Allah akan menuntut mereka dengan tuntutan yang berat, karena mereka melanggar perintah-Nya dan melanggar ketentuan-Nya dengan memasarkan dan mempromosi konstitusi baru ini. Sungguh, pada saat itu tidak akan menguntungkan mereka semua usaha pembenaran palsu, argumen lemah, serta klaim batil. Sementara itu, mayoritas rakyat Mesir akan menjadi saksi yang jujur atas semua yang mereka lakukan [As’ad Manshur].

Kritik buat Said Aqil Siradj Membolehkan mengucapkan selamat Natal

 

Said Aqil Siradj Membolehkan mengucapkan Selamat Natal. Ini adalah pemahaman yang keliru yang menyesatkan umat. Anda seorang yang di pandang ulama oleh sebagian umat kenapa anda mengeluarkan ucap yang beracun yang akan meruntuhkan aqidah umat.

 Baca bantahannya Artiel di bawah ini

Bantahan Argumentatif Terhadap yang Membolehkan Merayakan Natal !

Hukum Merayakan Natal Bagi kaum Muslim

Pertama: Keharaman Merayakan Hari Raya kaum Kafir dan Mengucapkan Selamat “Hari Raya”
Kaum Muslim haram mengikuti Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) merayakan Hari Natal atau hari raya mereka, serta mengucapkan ucapan “Selamat Natal”, karena ini merupakan bagian dari kegiatan khas keagamaan mereka, atau syiar agama mereka yang batil. Kita pun dilarang meniru mereka dalam hari raya mereka.
Keharaman itu dinyatakan dalam al-Kitab, as-Sunnah dan Ijma’ Sahabat. Pertama, dalam al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

 وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan kemaksiatan, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berguna, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (Q.s. al-Furqan [25]: 72)
Mujahid, dalam menafsirkan ayat tersebut menyatakan, “az-Zûr (kemaksiatan) itu adalah hari raya kaum Musyrik. Begitu juga pendapat yang sama dikemukakan oleh ar-Rabî’ bin Anas, al-Qâdhî Abû Ya’lâ dan ad-Dhahâk.” Ibn Sirîn berkomentar, “az-Zûr adalah Sya’ânain. Sedangkan Sya’ânain adalah hari raya kaum Kristen. Mereka menyelenggarakannya pada hari Ahad sebelumnya untuk Hari Paskah. Mereka merayakannya dengan membawa pelepah kurma. Mereka mengira itu mengenang masuknya Isa al-Masih ke Baitul Maqdis.” [1]
Wajh ad-dalâlah (bentuk penunjukan dalil)-nya adalah, jika Allah memuji orang-orang yang tidak menyaksikan az-Zur (Hari Raya kaum Kafir), padahal hanya sekedar hadir dengan melihat atau mendengar, lalu bagaimana dengan tindakan lebih dari itu, yaitu merayakannya. Bukan sekedar menyaksikan.
Kedua, mengenai as-Sunnah, dalil yang menyatakan keharamannya adalah hadits Anas bin Malik ra, yang menyatakan:

قَدَمَ رَسُوْلُ الله [صلم] اَلْمَدِيْنَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا، فَقَالَ: مَا هَذَا اْليَوْمَانِ؟ قَالُوْا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيْهِمَا فِيْ الْجَاهِلِيَّةِ، فَقَالَ رَسُوْلُ الله [صلم]: إنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْراً مِنْهُمَا: يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ [رواه أبو داود، وأحمد، والنسائي على شرط مسلم]

“Rasulullah saw. tiba di Madinah, sementara mereka (penduduk Madinah) mempunyai dua hari, dimana mereka sedang bermain pada hari-hari tersebut, seraya berkata, ‘Dua hari ini hari apa?’ Mereka menjawab, ‘Kami sejak zaman Jahiliyyah bermain pada hari-hari tersebut.’ Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan hari yang lebih baik: Hari Raya Idul Adhha dan Hari Raya Idul Fitri.” (Hr. Abu Dawud, Ahmad dan an-Nasa’i dengan syarat Muslim)
Wajh ad-dalâlah (bentuk penunjukan dalil)-nya adalah, bahwa kedua hari raya Jahiliyyah tersebut tidak diakui oleh Rasulullah saw. Nabi juga tidak membiarkan mereka bermain pada kedua hari yang menjadi tradisi mereka. Sebaliknya, Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan hari yang lebih baik.”  Pernyataan Nabi yang menyatakan, “mengganti” mengharuskan kita untuk meninggalkan apa yang telah diganti. Karena tidak mungkin antara “pengganti” dan “yang diganti” bisa dikompromikan. Sedangkan sabda Nabi saw, “Lebih baik dari keduanya.” mengharuskan digantikannya perayaan Jahiliyah tersebut dengan apa yang disyariatkan oleh Allah kepada kita.
Ketiga, tindakan ‘Umar dengan syarat yang ditetapkan kepada Ahli Dzimmah telah disepakati oleh para sahabat, dan para fuqaha’ setelahnya, bahwa Ahli Dzimmah tidak boleh medemonstrasikan hari raya mereka di wilayah Islam. Para sahabat sepakat, bahwa mendemonstrasikan hari raya mereka saja tidak boleh, lalu bagaimana jika kaum Muslim melakukannya, maka tentu tidak boleh lagi.
‘Umar pun berpesan:

إِيَّاكُمْ وَرِطَانَةَ الأَعاَجِمِ، وَأَنْ تَدْخُلُوْا عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ يَوْمَ عِيْدِهِمْ فِيْ كَنَائِسِهِمْ فَإِنَّ السُّخْطَةَ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمْ [رواه أبو البيهقي إسناد صحيح].

“Tinggalkanlah bahasa kaum ajam (non-Arab). Janganlah kalian memasuki (perkumpulan) kaum Musyrik dalam hari raya mereka di gereja-gereja mereka. Karena murka Allah akan diturunkan kepada mereka.” (Hr. al-Baihaqi dengan Isnad yang Shahih)
Ibn Taimiyyah berkomentar, “Umar melarang belajar bahasa mereka, dan sekedar memasuki gereja mereka pada Hari Raya mereka. Lalu, bagaimana dengan mengerjakan perbuatan mereka? Atau mengerjakan apa yang menjadi tuntutan agama mereka. Bukankah melakukan tindakan mereka jauh lebih berat lagi? Bukankah merayakan hari raya mereka lebih berat ketimbang hanya sekedar mengikuti mereka dalam hari raya mereka? Jika murka Allah akan diturunkan kepada mereka pada hari raya mereka, akibat tindakan mereka, maka siapa saja yang terlibat bersama mereka dalam aktivitas tersebut, atau sebagian aktivitas tersebut pasti mengundang adzab tersebut.”[2]

Hal senada juga dikemukakan oleh Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya, Ahkam Ahl ad-Dzimmah, Juz I/161. Beliau menyatakan, para ulama’ sepakat tentang keharaman mengucapkan “Selamat Hari Raya” kepada mereka, tidak ada perselisihan pendapat.
Kedua: Mereka yang Membolehkan
Dr. Quraisy Shihab menyatakan, memberikan ucapan selamat Natal sudah diajarkan dalam al-Qur’an, seperti tertuang dalam surah Maryam ayat 34.
ذَلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ
“Itu tentang Isa putera Maryam, yang merupakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.” (Q.s. Maryam [19]: 34)
Ayat ini sama sekali tidak membahas tentang hukum kebolehan mengucapkan “Selamat Natal”. Menurut al-Qurthubi, ayat ini menjelaskan tentang siapa Nabi ‘Isa –‘alaihissalam. Dia adalah putra Maryam, tidak seperti yang dituduhkan orang Yahudi, sebagai putra Yûsuf an-Najjâr, atau seperti klaim orang Kristen, bahwa dia adalah Tuhan (anak), atau putra Tuhan.[3]
Dr. Yusuf al-Qaradhawi mengatakan, bahwa merayakan hari raya agama adalah hak masing-masing agama, selama tidak merugikan agama lain. Termasuk hak tiap agama untuk memberikan ucapan selamat saat perayaan agama lain. Dia mengatakan, “Sebagai pemeluk Islam, agama kami tidak melarang kami untuk untuk memberikan ucapan selamat kepada non-Muslim warga negara kami atau tetangga kami dalam hari besar agama mereka. Bahkan perbuatan ini termasuk dalam kategori al-birr (perbuatan yang baik).
Sebagaimana firman Allah SWT:
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ


“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada  orang-orang yang tiada memerangimu karena agama, dan tidak mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Q.s. al-Mumtahanah: 8)
Kebolehan memberikan mengucapkan selamat ini terutama bila pemeluk agama lain itu juga telah memberikan ucapan selamat kepada kita dalam perayaan hari raya kita:

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu. Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (Q.s. an-Nisa’: 86)
Begitu, kata Dr. Yusuf al-Qaradhawi. Padahal, Q.s. al-Mumtahanah: 8 di atas, khususnya frasa “Tabarrûhum wa tuqsithû ilaihim” (berbuat baik dan berlaku adil kepada mereka) tidak ada kaitannya dengan mengucapkan “Selamat Hari Raya” kepada kaum Kafir yang tidak memerangi kita. Karena bersikap baik dan adil kepada mereka dalam hal ini terkait dengan mu’amalah, bukan ibadah. Sedangkan mengucapkan “Selamat Hari Raya” kepada mereka bagian dari ibadah. Konteks ayat ini terkait dengan Bani Khuza’ah, dimana mereka menandatangani perjanjian damai dengan Nabi untuk tidak memerangi dan menolong siapapun untuk mengalahkan baginda saw, maka Allah perintahkan kepada baginda saw untuk berbuat baik, dan menepati janji kepada mereka hingga berakhirnya waktu perjanjian.[4] Jadi, konteks “berbuat baik” di sini sama sekali tidak ada kaitannya dengan “Selamat Hari Raya” kepada mereka, yang merupakan bagian dari “berbuat baik”.
Demikian juga dengan Q.s. an-Nisa’: 86. Ayat ini menjelaskan tentang tahiyyah (ucapan salam) yang disampaikan kepada orang Mukmin. Tahiyyah juga bisa berarti doa agar diberi kehidupan. Menurut at-Thabari, “Jika kalian didoakan orang agar diberi panjang umur, maka diperintahkan untuk mendoakannya dengan doa yang sama.”[5] Namun, menurut al-Qurthubi, tahiyyah di sini bisa berarti ucapan salam. Jadi, “Jika kalian diberi salam, maka jawablah salamnya dengan lebih baik.” Hanya, menurut al-Qurthubi, balasan lebih baik ini dikhususkan kepada orang Islam, jika mereka yang mengucapkan salam. Jika yang mengucapkan salam orang Kafir, termasuk Ahli Dzimmah, maka tidak boleh membalas salam mereka, kecuali dengan jawaban yang diajarkan oleh Nabi, “Wa ‘alaikum.” [6]
Jadi, menggunakan ayat ini untuk membolehkan kaum Muslim mengucapkan “Selamat Hari Raya” kepada kaum Kafir jelas tidak tepat. Bahkan, bertentangan dengan sejumlah dalil, baik al-Qur’an, as-Sunnah maupun Ijma’ Sahabat. Meski begitu, Dr. Yusuf al-Qaradhawi secara tegas mengatakan, bahwa tidak halal bagi seorang Muslim untuk ikut dalam ritual dan perayaan khas agama lain.

Adapun Dr. Mustafa Ahmad Zarqa’ menyatakan bahwa tidak ada dalil yang secara tegas melarang seorang muslim mengucapkan selamat kepada orang Kafir. Beliau mengutip hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw pernah berdiri menghormati jenazah Yahudi. Penghormatan dengan berdiri ini tidak ada kaitannya dengan pengakuan atas kebenaran agama yang dianut jenazah tersebut.
Menurut beliau, ucapan “Selamat Hari Raya” kepada para  pemeluk Kristiani yang sedang merayakan hari besar mereka, juga tidak terkait dengan pengakuan atas kebenaran keyakinan mereka, melainkan hanya bagian dari mujamalah (basa-basi) dan muhasanah seorang Muslim kepada teman dan koleganya yang kebetulan berbeda agama. Dia juga memfatwakan, bahwa karena ucapan selamat ini dibolehkan, maka pekerjaan yang terkait dengan hal itu seperti membuat kartu ucapan selamat natal pun hukumnya ikut dengan hukum ucapan natalnya.
Namun dia juga menyatakan, bahwa ucapan selamat ini harus dibedakan dengan ikut merayakan hari besar secara langsung, seperti dengan menghadiri perayaan natal yang digelar di berbagai tempat. Menghadiri perayatan natal dan upacara agama lain hukumnya haram dan termasuk perbuatan mungkar.
Mengenai berdiri atau duduknya Nabi ketika jenazah Yahudi lewat, sebenarnya bukan dalil khusus, tetapi ini merupakan tindakan yang dilakukan Nabi secara umum terhadap jenazah, baik Muslim maupun non-Muslim. Karena dalam riwayat al-Hasan maupun Ibn ‘Abbas dinyatakan, bahwa Nabi terdakang berdiri dan terkadang duduk, saat ada jenazah melintas di hadapan baginda saw. Ini juga tidak ada kaitannya dengan mengucapkan “Selamat Hari Raya” kepada mereka. Karena konteksnya jelas-jelas berbeda.
Tentang pembuatan kartu Natal atau pernak-pernik Natal jelas haram, karena ini menyangkut madaniyyah khâshash yang terkait dengan peradaban lain, di luar Islam, yang nota bene adalah Kufur. Karena itu, hukum membuat, menjual, memanfaatkan dan mengambil harga dan keuntungan darinya juga haram.
Mengenai pernyataan Menteri agama yang menyatakan, bahwa ini hanyalah masalah mu’amalah, juga merupakan pernyataan yang tidak cermat. Karena tidak memilah mana yang ibadah dan mu’amalah. Merayakan Natal Bersama adalah bagian dari ibadah, yang haram dilakukan oleh kaum Muslim. Bahkan bisa menjerumuskannya dalam kemurtadan. Kalaulah memberi ucapan “Selamat Hari Raya” dianggap oleh Menag bagian dari mu’amalah, maka ini pun bagian dari mu’malah yang haram dilakukan oleh kaum Muslim kepada non-Muslim, apapun alasannya. Apakah untuk mujamalah (basa-basi), yang nota bene adalah sikap nifaq, maupun tasamuh (toleransi).
Pernyataan yang juga menggelikan adalah pernyataan MUI, yang menyatakan  boleh menghadiri, asal serimonialnya bukan ritualnya. Pernyataan seperti ini juga batil, yang sama sekali tidak ada dalilnya. Sebab, siapapun yang menelaah dalil-dalil yang dikemukakan di atas, pasti paham, bahwa jangankan untuk menghadiri seremoninya, karena melihatnya saja jelas-jelas tidak boleh.
Kesimpulan

Dari uraian tersebut bisa disimpulkan:
1-   Hukum mengucapkan “Selamat Natal” atau “Selamat Hari Raya” bagi orang non-Muslim dalam hari raya mereka jelas haram. Dalam hal ini, menurut Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama’.
2-   Hukum mengikuti ritual maupun seremoni hari raya orang non-Muslim juga haram, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama’.
3-   Membuat kartu atau pernak-pernik natal atau hari raya agama lain juga diharamkan, karena ini menyangkut madaniyyah khashah yang bertentangan dengan Islam.
4-   Dalil-dalil yang menyatakan keharamannya juga jelas, baik dalam al-Qur’an, as-Sunnah maupun Ijma’ Sahabat. Sedangkan dalil-dalil yang digunakan untuk menyatakan kebolehannya sama sekali tidak ada kaitannya, baik langsung maupun tidak. Karena itu, tidak layak dijadikan hujah dalam masalah ini.

Wallahu a’lam.


[1]  Lihat, Ibn Taimiyyah, Iqtidha’ as-Shirath al-Mustaqim, Juz I/537; Anis, dkk, al-Mu’jam al-Wasith, Juz I/488.
[2]  Lihat, Ibn Taimiyyah, Iqtidha’ as-Shirath al-Mustaqim, Juz I/515.
[3]  Lihat, al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, Juz XI/105.
[4]  Lihat, al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, Juz XVIII/59.
[5]  Lihat, at-Thabari, Tafsir at-Thabari, Juz V/119.
[6]  Lihat, al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, Juz V/297.

LINK :
Said Aqil Sirad membolehkan mengucapkan SELAMAT NATAL