Senin, 21 Januari 2013

Revolusi Syam Tanda Bangkitnya Umat Islam


Seruan dari Revolusi Syam kepada Umat Islam Seluruhnya untuk Menumbangkan para Penguasanya dan Membaiat Khalifah Kaum Muslimin yang Bisa untuk Berlindung dan Berperang di Belakangnya
Ini adalah revolusi Syam, berteriak dengan penuh keberanian kepada para penguasa kaum Muslimin yang mati, untuk menelanjangi mereka semuanya bahwa mereka berkumpul di atas penyembelihan revolusi Syam dari satu urat ke urat lainnya. Mereka bukan hanya mendukung rezim Bashar penjagal dan bekerja untuk melanggengkan eksistensinya meski rezim Bashar sudah runtuh hampir keseluruhan. Mereka juga tidak cukup dengan upaya demi upaya memalingkan revolusi untuk megaborsinya sebelum rezim-rezim antek mereka sendiri digugurkan melalui keberhasilan revolusi Syam. Tidak hanya cukup dengan semua itu, akan tetapi mereka berkonspirasi dan terus bersekongkol melawan orang-orang lemah yang terdiri dari para laki-laki, wanita, anak-anak yang tidak menemukan jalan di depan mereka kecuali lari dari ancaman pembunuhan, penghancuran dan pemerkosaan oleh rezim Bashar penjagal, lari kepada warga dan saudara mereka di negeri-negeri tetangga. Mereka terkejut dengan sesuatu yang lebih buruk dari pada Bashar, yaitu rezim-rezim represif yang sama sekali tidak memiliki perhatian kecuali untuk menghinakan manusia dan merendahkan kemanusiaan mereka. Seolah-olah rezim-rezim itu keberadaannya tidak lain untuk membunuh kaum Muslimin, mengembargo, dan menghalangi perlindungan atas mereka.
Rezim-rezim yang memusuhi Allah, rasul-Nya dan kaum Muslimin ini, baik di Yordania Abdullah bin al-Husein, di Irak al-Maliki, di Lebanon Nashrullah dan sekutunya, di Turki Erdogan, di Saudi, di Qatar atau di negeri lainnya … telah menegaskan bahwa mereka tidak berasal dari umat ini sedikit pun dan bahwa mereka sengaja merendahkan warga Syam, menghukum mereka atas revolusinya yang penuh berkah yang dampaknya dirasakan oleh para ruwaibidhah itu sebagai api yang menyala-nyala di bawah kursi mereka. Mereka tidak cukup dengan menghalangi dana dan senjata dari warga revolusi yang membela diri menyelamatkan nyawa dan kehormatannya, akan tetapi para ruwaibidhah itu juga menghalangi air, obat-obatan dan tempat tinggal yang layak untuk manusia dari warga revolusi Syam. Kami di revolusi Syam, revolusi umat Islam, menyampaikan kabar gembira kepada mereka bahwa rezim-rezimnya akan lenyap dan singgasana-singgasana yang didirikan dan dirawat untuk mereka oleh kaum kafir penjajah, sinarnya telah meredup, dan sekarang tiba waktunya lenyap. Kami sampaikan kabar gembira dengan kabar gembira dari Rasulullah saw di mana beliau bersabda di akhir hadits berita gembira akan kembalinya al-Khilafah.
«…، ثمُ تكَون جَبّرِيَةً، فتكَون مَا شاَء الله أَن تَكُونَ، ثمُ يَرفْعُهَا إذِاَ شاَء أَن يَرْفَعَهَا، ثمُ تكَون خلِافةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّة»
… kemudian ada kekuasaan diktator dan akan tetap ada atas izin Allah. Kemudian Dia akan mengangkatnya jika berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang berjalan mengikuti manhaj kenabian

Dan di dalam hadits berita gembira akan tersebarnya Islam dimana Rasulullah saw bersabda:
«لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الدِّينُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، وَلا يَتْرُكُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بَيْتَ مَدَرٍ وَلا وَبَرٍ إِلا أَدْخَلَهُ اللَّهُ هَذَا الدِّينَ، بِعِزِّ عَزِيزٍ أَوْ بِذُلِّ ذَلِيلٍ، عِزٌّ يُعِزُّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهِ الإِسْلامَ، أَوْ ذُلٌّ يُذِلُّ بِهِ الْكُفْرَ»
Sungguh, agama ini akan mencapai apa yang dicapai oleh malam dan siang. Allah tidak membiarkan satu rumah pun di kampung dan di kota kecuali Allah masukkan agama ini ke dalamnya dengan kemuliaan Zat yang Maha Perkasa dan kehinaan orang-orang yang hina, kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan Islam dan dengan kehinaan yang dengannya Allah menghinakan kekufuran

Sungguh kemuliaan Islam, demi Allah, terkait degan kembalinya al-Khilafah yang sinarnya mulai menyeruak di atas warga Syam, kemudian atas seluruh negeri kaum Muslimin. Dan sungguh, kehinaan kekufuran dan para pengikutnya juga terkait erat dengan kembalinya al-Khilafah.
Wahai kaum Muslimin yang bersabar di negeri kamp kematian:
Sesungguhnya para penguasa antek yang menyebut warga kita yang mengungsi sebagai azab di atas azab; mereka adalah menyempurnakan kejahatan Bashar si penjagal; mereka adalah sekutu Bashar dan rezimnya dalam melakukan pembunuhan dan kejahatan. Menghilangkan mereka semuanya itu hari ini adalah wajib. Kewajiban itu tidak lebih kecil dari wajibnya menyempurnakan penghancuran atas Bashar dan kaki tangannya. Penghancuran para ruwaibidhah itu semuanya merupakan keharusan agar kita kembali seperti dahulu sebagai satu umat di dalam satu negara, di bawah panji daulah al-Khilafah al-Islamiyah. Inilah, saudara-saudara Anda di Syam telah membuka jalan di depan Anda maka tidak ada alasan bagi Anda setelah hari ini di hadapan Rabb Anda. Allah SWT berfirman:
] إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ [
Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara (TQS al-Hujurat [49]: 10)

Allah SWT juga berfirman:
] وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ [
Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. (TQS al-Mu’minun [53]: 12)

Jumat, 11 Januari 2013

Misery (Stephen King)

Download:Misery (Stephen King).PDF

Misery is the 25th book published by Stephen King; it was his 22nd novel, and the 17th written under his own name. The book was released by Viking on 8 June 1987.

Fiction author Paul Sheldon has made a living by writing a popular series of novels featuring a heroine by the name of Misery Chastain. After finishing the last book in the Misery series he goes on a

Download Ebook Cerita Dewasa + Gambar Berkualitas

Bagi para penikmat cerita dewasa, berikut ini kami merangkum beberapa cerita dewasa pilihan yang dapat anda nikmati di waktu senggang dengan mudah karena anda dapat membacanya secara ofline dan dalam format PDF.

Selamat menikmati cerita dewasa dalam beberapa ebook yang kami pisahkan sesuai kategori. Jangan lupa untuk berkunjung kembali karena kami akan selalu update info mengenai cerita dewasa terbaru yang kami pilih sesuai dengan kualitas tulisannya ;)

Selamat mendownload

Sejarah Perang Hunain




Perang Hunain terjadi pada bulan Syawal tahun kedelapan Hijriah, tidak lama setelah Makkah berhasil dibuka oleh kaum Muslim. Jatuhnya kota Makkah ke tangan kaum Muslim menunjukkan telah berakhirnya dominasi kaum kafir Quraisy atas wilayah itu selama berabad-abad. Meskipun demikian, posisi kota Makkah belum dikatakan aman secara geografis, karena beberapa kabilah yang memusuhi Rasulullah saw. masih bercokol di kawasan selatan Makkah. Itulah kabilah-kabilah yang pernah menolak ajakan Rasulullah saw. (dalam thalab an-nushrah ) ketika beliau masih berdakwah di kota Makkah. Kabilah-kabilah tersebut pernah menolak seruan Nabi saw. dan mengusir beliau dengan cara yang amat keji.
Berita kemenangan yang diperoleh Rasulullah saw. dan kaum Muslim tampaknya tidak menyenangkan para pemuka kabilah yang berada di sekitar Makkah, yang masih musyrik. Kekhawatarian mereka terhadap pertumbuhan kekuatan kaum Muslim bukan lagi sekadar ilusi, melainkan kenyataan yang harus mereka hadapi. Salah seorang tokoh Hawazin, yakni Malik bin Auf an-Nashri, behasil memprovokasi beberapa kabilah lainnya, dan bersiap-siap menghadapi pasukan kaum Muslim dengan mengumpulkan kekuatan yang sangat besar di daerah Authas (terletak antara Makkah dan Thaif). Dalam kesempatan itu ia menyertakan juga anak-anak, kaum wanita, bahkan seluruh harta kekayaan mereka. Hal itu dilakukannya guna mencegah anggota-anggota kabilah melarikan diri dari peperangan, sekaligus untuk menyemangati mereka, karena harta kekayaannya, anak-anak, dan kaum wanitanya terdapat di tengah-tengah mereka. Selain kabilah Hawazin yang bergabung dengan Malik bin Auf, juga turut serta seluruh penduduk Tsaqif. Begitu pula seluruh penduduk kabilah Nashr, kabilah Jusyam, Saad bin Bakr, dan beberapa orang dari Bani Hilal.
Malik bin Auf an-Nashri berkata kepada pasukannya, “Apabila kalian melihat mereka, patahkan sarung pedang kalian, lalu bersatu padulah kalian bagaikan satu tubuh.”
Rasulullah saw. sendiri berangkat bersama 2.000 warga kota Makkah dan 10.000 sahabat yang turut serta bersama beliau di dalam penaklukkan Makkah. Keberangkatannya terjadi pada tanggal 6 Syawal.  Jumlah total kaum Muslim yang terlibat di dalam perang kali ini mencapai 12.000 orang.
Rasulullah saw. menunjuk Attab bin Usaid bin Abu al-Ish bin Umayyah bin Abdu Syams sebagai pemimpin yang mengontrol penduduk Makkah, yang tidak bisa turut serta berperang bersama beliau.
Jabir bin Abdullah berkata:

Tatkala kami berjalan ke Hunain, kami menuruni salah satu lembah Tihamah yang amat luas. Kami semestinya turun secara perlahan-lahan, namun kami melakukannya dengan tergesa-gesa. Hal itu terjadi di tengah malam yang amat gelap. Di sisi lain, ternyata orang-orang dari kabilah Hawazin telah mendahului kami tiba di lembah itu. Mereka bersembunyi dari penglihatan kami di salah satu tempat tersembunyi dari penglihatan kami. Mereka telah siap sedia dan bertekad bulat untuk menyergap pasukan kaum Muslim. Demi Allah, tidak ada yang menakutkan kami saat kami turun melainkan rombongan pasukan mereka yang menyergap kami dengan kompak, ibarat serangan satu orang. Kami pun berlarian tercerai-berai, dalam kondisi tidak seorang pun yang menoleh kepada yang lainnya.

Di tengah kepanikan tersebut Rasulullah saw. berseru, “Hai manusia, kembalilah, aku ini Rasulullah. Aku Muhammad bin Abdullah.”
Seruan beliau tidak didengar, sementara itu unta maupun manusia saling berlarian berpencar, hanya tertinggal beberapa orang dari kaum Muhajirin, kaum Anshar, dan Ahlul Bait yang tetap bertahan bersama-sama  Rasulullah saw. Di antara para sahabat yang tetap bertahan bersama-sama beliau dari kaum Muhajirin adalah Abu Bakar dan Umar bin al-Khaththab; dari Ahlul Bait adalah Ali bin Abu Thalib, Abbas bin Abu Thalib, Abu Sufyan bin al-Harits bersama anaknya al-Fadhl bin Abbas, Rabiah bin al-Harits, Usamah bin Zaid, dan Aiman bin Ummu Aiman bin Ubaid yang saat itu gugur sebagai syahid.


Titik Balik Peperangan
Menyaksikan kekalahan itu, beberapa orang Makkah yang masih menaruh dendam di dalam hatinya bereaksi. Abu Sufyan bin Harb berkata, “Kekalahan mereka tidak akan berakhir sekalipun hingga di lautan.”
Jabalah bin al-Hanbal juga berkata, “Ketahuilah, sihir telah dikalahkan pada hari ini.”
Meski sebagian besar pasukannya berlarian tercerai-berai, Rasulullah saw. tetap tak beranjak dari tempat berdirinya. Beliau bersabda, “Hai Abbas, berteriaklah. Hai seluruh orang-orang Anshar, wahai seluruh orang-orang pemilik samurah.”
Mereka lalu menjawab bersahutan, “Ya, kami menyambut panggilanmu.”
Tidak lama kemudian, pasukan mampu dikonsolidasikan kembali. Tekanan peperangan berbalik menyudutkan pasukan musuh. Allah Swt. mengalahkan orang-orang musyrik dalam Perang Hunain dan memberikan kemenangan kepada Rasulullah saw. Tatkala orang-orang dari kabilah Hawazin kalah, korban dari pihak Tsaqif (Bani Malik) amat banyak; 70 orang dari mereka tewas di bawah bendera perang mereka, termasuk di dalamnya Utsman bin Abdullah bin Rabiah bin al-Harits bin Habib.
Orang-orang musyrik yang kalah dalam Perang Hunain melarikan diri ke Thaif bersama Malik bin Auf an-Nashri. Sebagian dari mereka memang bermarkas di lembah Authas, lainnya pergi ke Nakhla. Yang pergi ke Nakhla adalah Bani Ghiyarah dari Tsaqif. Pasukan berkuda Rasulullah saw. mengejar orang-orang yang mengarah ke daerah ats-Tsunaya.
Rasulullah saw. juga memerintahkan Abu Amir al-Asy‘ari untuk mengejar kaum musyrik yang melarikan diri ke lembah Authas. Di sana mereka menjumpai pasukan musyrik sehingga pertempuran berlanjut di lembah itu. Di dalam pertempuran tersebut, Abu Amir al-Asy‘ari gugur sebagai syahid. Bendera perang lalu diambil-alih oleh Abu Musa al-Asy‘ari, yang tidak lain adalah anak paman dari Abu Amir al-Asy‘ari. Abu Musa al-Asy‘ari melanjutkan peperangan melawan orang-orang musyrik itu hingga Allah memberikan kepadanya kemenangan.
Seluruh harta rampasan Perang Hunain, termasuk tawanan (sabiy ) kaum wanita dan anak-anak, diperintahkan oleh Rasulullah saw. agar dijaga oleh Mas‘ud bin Amr al-Ghifari. Rasulullah saw. memerintahkan para tawanan dan harta rampasan di bawa ke al-Ji’ranah untuk disimpan di sana, lalu dibagi-bagikan.

PERANG TABUK





Perang Tabuk


Kembali dari kota Makkah, setelah Hunain dan Thaif ditaklukkan pasukan Muslim, Rasulullah saw. tinggal di Madinah beberapa bulan. Setelah itu beliau memerintahkan kaum Muslim untuk melakukan persiapan menyerang Romawi. Langkah ini beliau tempuh sebagai implikasi dari universalitasnya risalah Islam.
Setelah beliau berhasil menundukkan seluruh kabilah Arab yang ada di Jazirah Arab, mengusir institusi Yahudi dari Madinah, serta menaklukkan komunitas Yahudi Khaibar, maka tahap berikutnya adalah mulai memasuki percaturan politik internasional, yang saat itu dikuasai oleh Kerajaan Romawi dan Kekaisaran Persia. Beliau memilih untuk melakukan manuver militer melawan Kerajaan Romawi terlebih dulu dibandingkan dengan terhadap Kekaisaran Persia.
Manuver militer yang dilakukan beliau merupakan tindak lanjut dari tidak diresponnya surat-surat yang beliau kirimkan kepada para raja pada waktu-waktu sebelumnya.
Rasulullah saw. memerintahkan para Sahabatnya untuk melakukan persiapan menyerang Romawi. Hal itu berlangsung pada saat kaum Muslim mengalami kondisi yang amat sulit, cuaca yang amat panas, musim kemarau, panen buah-buahan (kurma), masyarakat lebih menyukai berada di kebun-kebun (buah kurma) mereka atau tempat tinggal mereka, dan tidak ada yang menyukai berangkat dalam kondisi seperti itu. Rasulullah saw. sangat jarang pergi berperang melainkan senantiasa merahasiakannya, kecuali Perang Tabuk. Pada Perang Tabuk beliau menjelas-kannya kepada kaum Muslim, karena perjalanan yang amat jauh, kondisi yang sulit, dan banyaknya musuh yang dijadikan target. Rasulullah saw. menjelaskan hal itu supaya masyarakat melakukan persiapan secara matang.
Suatu hari, di tengah persiapannya itu, Rasulullah saw. berkata kepada Jadd bin Qais, salah seorang dari Bani Salamah, “Wahai Jadd, apakah pada tahun ini engkau turut memerangi orang-orang yang berkulit kuning (Romawi)?”
Jadd bin Qais menjawab, “Wahai Rasulullah, berilah kepadaku izin (keringanan), dan janganlah engkau menjerumuskanku ke dalam fitnah. Demi Allah, kaumku amat mengenaliku bahwa tidak ada lelaki yang amat cepat tertarik kepada wanita dibandingkan aku. Karena itu, aku merasa khawatir apabila aku melihat kaum wanita berkulit kuning, maka aku tidak sabar .”
Rasulullah saw. berpaling dari Jadd bin Qais seraya bersabda, “Aku mengizinkanmu.”
Peristiwa mengenai sikap orang yang enggan/meminta izin untuk tidak berperang ini kemudian diabadikan oleh Allah Swt. dalam al-Quran (Lihat: QS at-Taubah [9]: 49).
Sebagian orang-orang munafik berkata, “Janganlah kalian berangkat pada musim panas seperti ini .” Sikap orang-orang munafik ini pun disinggung dan dicela oleh Allah dalam al-Quran. (Lihat: QS at-Taubah [9]: 81-82).
Rasulullah saw. menerima berita bahwa sejumlah orang munafik berkumpul di rumah Suwailim (orang Yahudi) yang terletak di Jasum. Orang-orang munafik itu memprovokasi masyarakat agar mereka tidak turut serta berangkat bersama-sama Rasulullah saw. dalam Perang Tabuk. Rasulullah saw. mengirimkan Thalhah bin Ubaidillah disertai sejumlah Sahabat, dan memerintahkan mereka untuk membakar rumah Suwailim. Thalhah bin Ubaidillah kemudian melaksanakan perintah Rasulullah saw.

Keberangkatan ke Tabuk
Rasulullah saw. selesai melakukan persiapan dan tinggal menentukan waktu keberangkatannya. Beberapa Sahabat kurang sigap menyusul Rasulullah saw. sehingga mereka tertinggal, bukan karena mereka munafik. Mereka antara lain, Kaab bin Malik bin Abu Kaab saudara Bani Salamah, Murarah bin Rabi’ saudara Bani Amr bin Auf, Hilal bin Umayyah saudara Bani Waqif, dan Abu Khaitsamah saudara Bani Salim bin Auf. Mereka seluruhnya adalah orang-orang yang jujur dan keislaman mereka tidak perlu diragukan.
Rasulullah saw. mengangkat Muhammad bin Maslamah al-Anshari sebagai wakilnya di Madinah. Rasulullah saw. menunjuk Ali bin Abi Thalib ra. untuk menjaga keluarga beliau dan memerintahkan kepadanya untuk tetap berada di tempat mereka. Mengenai ketidakberangkatan Ali bin Abu Thalib karena menerima tugas khusus dari Rasulullah saw., maka orang-orang munafik menyebarluaskan berita bohong. Mereka berkata, “Nabi menunjuk Ali untuk memberatkannya sekaligus memberikan kepadanya keringanan .”
Mendengar banyak orang yang berkata seperti itu, Ali bin Abu Thalib malah mengambil senjata, kemudian berangkat dan berhasil menyusul Rasulullah saw. yang saat itu tengah berhenti di daerah al-Jurf. Ali bin Abu Thalib berkata, “Wahai Nabi Allah, orang-orang munafik berkata bahwa engkau meninggalkanku di Madinah karena engkau ingin memberatkanku, sekaligus memberikan keringanan kepadaku.”
Rasulullah saw menjawab, “Mereka itu berbohong. Aku meninggalkanmu di Madinah untuk menjaga keluargaku. Karena itu, pulanglah dan jagalah keluargaku dan keluargamu. Wahai Ali, apakah engkau tidak ridha apabila kedudukanmu terhadapku seperti kedudukan Nabi Harun terhadap Nabi Musa? Hanya saja, tidak ada Nabi sesudahku .”
Ali bin Abu Thalib lalu pulang kembali ke Madinah, sedangkan Rasulullah saw melanjutkan perjalanannya.
Tatkala Rasulullah saw. sampai di Tabuk, beliau didatangi oleh Yuhana bin Ru’bah, penguasa daerah Ailah. Lalu ia membuat perjanjian (damai) dengan beliau dan bersedia membayar jizyah kepada beliau. Rasulullah saw. juga didatangi penduduk Jarba dan Adzrah, yang juga sanggup untuk membayar jizyah kepada beliau. Rasulullah saw. lalu membuat surat perjanjian dengan mereka.
Meski peperangan dengan Romawi tidak terjadi, misi pengerahan militer yang Rasulullah saw. lakukan berhasil meraih target, yaitu menggentarkan kekuatan musuh sekaligus memposisikan Negara Islam sejajar dengan kekuatan global yang ada waktu itu. Implikasi lain yang diperoleh Rasulullah saw. adalah keberhasilannya membuat daerah penyangga di perbatasan sebelah Utara dengan wilayah Romawi, dengan mengikat berbagai perjanjian bersama dengan kabilah-kabilah yang sebelumnya berada di bawah kontrol Romawi. Ini merupakan langkah strategis dengan menempatkan mereka sebagai ujung tombak dan sarana informasi mengenai aktivitas militer Romawi di wilayah perbatasan.
Dengan demikian, beliau telah membangun pondasi dan mempersiapkan langkah-langkah ‘go internasional ’, merambah daerah di luar Jazirah Arab. Langkah ini kelak mempermudah tugas Khulafaur Rasyidin untuk menyebarluaskan risalah Islam ke seluruh penjuru dunia.


Perang Khaibar




Perang Khandaq