Jumat, 25 Februari 2011

1 Perempuan 14 laki-laki - Djenar Maesa Ayu; Ayo kejar bukunya !!!

1 Perempuan 14 laki-laki - Djenar Maesa Ayu
Buku terbaru Djenar Maesa Ayu, 1 Perempuan 14 Laki-laki (telah) di-launching pada 14 Januari 2011 lalu, bertepatan dengan ulangtahun penulis yang juga sutradara film itu. Tapi, buku itu sendiri sudah bisa di dapat di toko buku pada: 11-1-11 (baca: tanggal selas bulan satu tahun duaribu sebelas). Sebelum buku ini, buku terakhir Djenar adalah Cerita Pendek tentang Cerita Cinta Pendek, hampir lima tahun lalu. Sudah pasti, terbitnya buku baru Djenar ini, bisa menjawab rasa penasaran pembaca yang menyukai karya-karyanya: seperti apa buku ini? Adakah yang baru atau berubah?

Satu point yang menarik adalah: dalam buku 1 Perempuan 14 Laki-laki ini, Djenar berkolaborasi dengan 14 orang laki-laki, dengan latar profesi yang beragam. Saya, kebetulan ada di antara ke 14 “laki-laki yang beruntung” itu. Eghmmm. Saya dan Djenar bisa menyelesaikan satu cerpen: Kunang-kunang dalam Bir. Cerpen ini, sempat muncul di Kompas.

Cerpen-cerpen lain ditulis Djenar bersama Enrico Soekarno (Cat Hitam Berjari Enam), Indra Herlambang (Menyeruput Kopi di Wajah Tampan), Sardono W Kusumo (Rama Raib), Totot Indrarto (Kupunyakupu), Jerinx JRX (Kulkas. Dari. Langit.), Arya Yudistira Syuman (Matahari di Klab Malam), Sudjiwo Tedjo (Rembulan Ungu Kuru Setra), Richard Oh ( Nafas dalam Balon Karet), Nugroho Sukmanto (Bukumuka), Lukman Sardi (Ra Kuadrat), Robertus Robet (Dijerat Saklar), Romo Mudji Sutrisno (Polos), Butet Kartaredjasa (Balsem Lavender). Hmm, melihat latar belakang nama-nama itu, apa yang langsung Anda bayangkan, bukan tentang Djenar-nya tentu saja, tapi tentang bukunya!

Kita kenal Lukman Sardi seorang aktor film, Jerinx JRK adalah salah satu pentolan band Superman is Dead, Sudjiwo Tedjo seniman dan intelektual serba komplit, Sardono W. Kusumo adalah penari dan koreografer tari yang banyak mempengaruhi sejarah dan pertumbuhan tari Indonesia kontemporer saat ini.

Apa kata Djenar, perihal bukunya ini, baiklah, saya bocorkan sedikit pengantar yang ditulisnya untuk buku 1 Perempuan 14 Laki-laki:

Saya selalu percaya bahwa inspirasi bukanlah sesuatu yang bisa saya datangkan, namun inspirasilah yang mendatangi saya. Maka disiplin yang saya lakukan adalah, selalu setia di depan laptop ketika sedang ada waktu senggang sehingga akan selalu siap mentransformasikan insipirasi ke dalam teks ketika ia datang. Selanjutnya, biarkan diri saya menjadi objek dan teks yang menjadi subjeknya. Biarkan teks itulah yang menjadi raja.

Hal inilah yang saya tawarkan kepada Agus Noor: Menulis tanpa konsep. Seperti yang Agus Noor sudah tulis di blognya dengan judul “Kunang-Kunang dalam Bir” –sesuai dengan judul cerpen yang akhirnya berhasil kami tulis berdua– kami akan mencoba menulis bergantian kalimat perkalimat. Begitulah kesepakatan kami sambil menikmati secangkir kopi hangat.

Sebelum malam mulai larut, dan kopi sudah berganti bir yang dengan segera berpindah ke perut, saya terinspirasi untuk menulis kalimat pertama. “Di kafe itu, ia meneguk kenangan.” Setelah itu saya menyodorkan laptop ke arah Agus Noor untuk dibaca dan dilanjutkan. Demikian seterusnya. Awal kesepakatan untuk menulis bergantian kalimat perkalimat, akhirnya kami bebaskan kepada perasaan kami saja. Apabila baik saya maupun Agus Noor masih asyik menulis lebih dari satu kalimat, tidak ada salah satu dari kami yang berusaha menghentikannya.

Jika Agus Noor mengumpamakan proses kreatif kami sebagai dua petinju yang sedang saling menukar jurus-jurus pukulan, saya lebih senang mengumpamakannya sebagai dua orang yang sedang kasmaran sehingga selalu ingin memahami dan menyenggamai masing-masing pikiran. Selalu ingin berdekatan dengan bibir yang saling berpagut pada lidah yang melulu ingin memenuhi tiap ruang kosong. Dan dalam situasi seperti itu, pikiran sepasang manusia yang kasmaran ini pun bolong. Hanya intuisi yang menggerakkan tiap indera perasa. Mereka lupa dan merdeka, karena ada faktor lain yang bekerja, yaitu rasa kasmaran atau cinta. Cinta, yang saya perumpamakan sebagai teks inilah satu-satunya subjek yang menuntun gerakan jari kami berdua ketika menulis bersama.

Kami menyelesaikan satu cerpen hingga dini hari. Walaupun saya sudah terbiasa menulis tanpa konsep, namun berhasil menulis berdua dengan cara seperti itu tetap saja membuat saya takjub. Saya pun mulai berpikir, bagaimana jika saya melakukannya bukan dengan seorang penulis? Apakah cara menulis tanpa konsep seperti itu akan berhasil juga?

Akhirnya saya menghubungi beberapa sahabat, yang dengan segera menyambut ide saya dengan hangat. Kali kedua saya menulis dengan Totot Indrarto, seorang krikitus film yang sering memanggil saya dengan sebutan monyet. Hal yang terjadi selanjutnya, tidak berbeda dengan apa yang saya lakukan dan rasakan dengan Agus Noor. Kami berhasil menyelesaikan satu cerpen dalam waktu satu hari. Saya ingat benar, kami memulainya pukul delapan malam hingga jam empat pagi. Saya pun semakin percaya diri dan selama lima hari berturut-turut menulis bergantian dengan beberapa sahabat laki-laki: Sudjiwo Tedjo, Sardono W. Kusumo, Enrico Soekarno, Indra Herlambang, dan kakak tertua saya, Arya Yudistira Syuman.

Menulis bersama yang bukan penulis bagi saya adalah sebuah pengalaman yang sangat mengesankan. Banyak medium di luar teks yang begitu menggugah perasaan. Salah satunya adalah menulis dengan Mas Sardono. Ketika Mas Sardono berbicara, ketika ia mengerjapkan matanya setiap kali mencoba mengingat satu peristiwa, ketika tangannya bergerak menirukan gaya sebuah karya tari, ketika pada akhirnya saya mengantar dari coffeewar menuju rumahnya yang juga masih berada di daerah Kemang dengan berjalan kaki, segalanya mengalir bagai sebuah tarian. Pada saat itu pun saya segera sadar, jika Mas Sardono tengah menulis dengan begitu apik lewat tubuhnya dan hal inilah yang harus segera saya tumpahkan ke dalam tulisan.

Pengalaman yang cukup unik juga saya rasakan ketika bertemu Jering, salah satu personel band Superman Is Dead, yang juga dikenal dengan inisial JRX. Tidak seperti sahabat-sahabat lain, saya belum pernah berjumpa dengan Jering sama sekali. Kami saling mengenal lewat salah satu situs pertemanan di Internet. Yang menarik saya untuk mengajaknya bekerja sama, tidak lain karena tulisan-tulisan pendeknya di situs pertemanan tersebut. Pada satu kesempatan berlibur dengan anak-anak ke Bali, Pulau Dewata tempat Jering berdomisili, saya pun menyempatkan waktu untuk menulis bersamanya. Di sebuah Diner miliknya yang riuh, kami tidak saja berusaha memahami teks yang kami saling ketik, namun lewat teks jualah kami mengawali awal persahabatan yang begitu instan. Dan cukup dua kali pertemuan yang kami butuhkan. Satu cerpen pun berhasil kami selesaikan.

Apakah semudah itu?

[Tulisan tersebut di atas merupakan  catatan, komentar ataupun review Agus Noor atas karya Djenar Maesa Ayu ini, untuk mengunjungi blog Agus Noor, silahkan kesini :: http://agusnoorfiles.wordpress.com]

Kamis, 24 Februari 2011

40 Days In Europe - Kisah kelompok musik Indonesia menaklukan daratan Eropa

40 days in Europe
40 Days In Europe - Kisah kelompok musik Indonesia menaklukan daratan Eropa

Buku ini berkisah tentang sekelompok anak muda yang berjuang mengenalkan budaya Indonesia melalui musik angklung. Siapa sangka, angklung yang terlihat sederhana dan bersahaja dapat tampil menggetarkan setiap panggung di negara-negara Eropa. Inilah kisah 35 musisi asal Indonesia yang tak pernah menyerah meski awalnya terancam batal berangkat ke eropa.

Namun, berbekal keberanian, kerja keras dan cerdas serta mimpi untuk membuat tim ini sejajar dengan musisi internasional lainnya, tak ada rintangan yang tak dapat dilalui. Meski tertatih, kelompok musisi yang membawa misi Expand the Sound of Angklung ini terus menebar pesona di seantero eropa. Berbagai kota mereka taklukkan dengan keindahan alat musik tradisional asli indonesia. Semua terkesan. Semua takjub dengan keajaiban yang bisa didatangkan sebuah instrumen musik. Pada akhirnya, misi budaya ini menegaskan identitas bangsa yang bisa berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lainnya.

Mau download bukunyaa?
Download Ebook nya disini

Resensi 40 Days in Europe

Download ebook 40 Days in Europe karya Maulana M. Subhan
Sebuah buku yang berjudul 40 Days In Europe ini merupakan hasil karya seorang siswa lulusan SMAN 3 Bandung dan Teknik Industri ITB bernama Maulana M. Syuhada. Kini, ia melanjutkan pendidikannya di Technische Universitaet Hamburg. Buku ini merupakan buku non-fiksi, yaitu salah satu pengalaman dalam kehidupan sang pengarang. Sekilas, jika dilihat dari judul, kita mungkin mengiranya sebagai buku berjenis fiksi dan bercerita tentang petualangan dan fantasi. Namun, dugaan tersebut tidak sepenuhnya benar. Buku ini memang bercerita tentang petualangan, tetapi bukan petualangan di dunia fantasi, melainkan petualangan dalam hidup yang benar benar terjadi.

40 Days in Europe, bertema petualangan sebuah kelompok angklung mengharumkan nama Indonesia di tanah Eropa. Buku ini menceritakan mengenai 35 orang asal Indonesia yang tidak pernah menyerah dalam membawa misi Expand Sound of Angklung. Walaupun didera banyak cobaan hingga dihadapkan ke pilihan yang sulit yaitu menggelandang di Eropa ataukah berenang melewati Selat Inggris, mereka tidak pernah menyerah. Alur buku yang tidak monoton membuat kita menikmati buku ini. Dalam buku ini, tidak hanya diceritakan saat mereka sudah berada di Eropa saja. Tetapi, buku ini menceritakan sejak melayangkan surat mengenai ESA 2004 ke salah satu alumni KPA (Keluarga Paduan Angklung) yang tinggal di Hamburg meminta bantuan, lalu mulai dari mengubungi kota-kota di Eropa untuk mengadakan konser atau acara, mencari festival yang akan diikuti, mencari dana, bahkan hingga alat transportasi antar negara. Setelah itu semua, baru diceritakan sejak mereka tiba di Eropa, mulai dari hari pertama hingga hari ke empat puluh. Latar dalam buku ini antara lain hari-hari ketika masih di Bandung dan hari-hari ketika sudah berada di Eropa. Latar tempatnya yaitu berbagai negara dan kota di Eropa.

Buku ini, tidak hanya sekedar sebuah buku yang berisi tulisan-tulisan. Tetapi, buku ini juga mengajarkan hal-hal tentang hidup ini. Begitu banyak pelajaran dan hikmah yang bisa diambil dari buku ini, seperti mengajarkan kita bagaimana harus sabar dalam melewati liku-liku hidup, mempersiapkan segalanya dengan matang, kekompakan dan kebersamaan yang erat dalam sebuah kelompok, mengambil keputusan di saat yang genting, dan banyak lagi pelajaran lainnya yang dapat kita ambil dari buku ini.

Setiap buku tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangan. Untuk beberapa kelebihan buku ini sudah disebutkan di atas seperti alur yang tidak monoton dan pelajaran yang begitu banyak dapat diambil. Kelebihan lainnya antara lain disertakannya beberapa foto dokumentasi ketika berada di Eropa sehingga semakin menarik saja. Gaya bahasa yang digunakan di buku ini juga sesuai dengan gaya bahasa kita sehingga mudah dimengerti. Salah satu hal yang saya senangi dari buku ini adalah, buku ini ketika sudah memasuki bagian di Eropa, dituliskan menurut hari dan negaranya. Misalnya, hari pertama di Frankfurt, nah begitu hari kedua, langsung ganti lagi, sehingga tidak monoton.

Namun, setiap buku pasti memiliki kelemahan. Salah satu kelemahan buku ini adalah, bagian awal, ada bagian yang agak membosankan seperti email yang tidak terlalu penting yang dicantumkan ataupun percakapan di yahoo messenger yang agak membosankan. Namun, secara keseluruhan buku ini sudah sangat baik. Apalagi ditambah dengan penggantian buku dengan hadiah apabila buku ini ada cacat.

Kepengarangan buku ini, gaya bahasa yang digunakan tidak rumit dan mudah dimengerti sehingga sesuai untuk umur remaja ataupun yang lebih tua. Kesimpulan, buku ini sangat menarik untuk dibaca dan begitu banyak pelajaran mengenai hidup yang dapat diambil dari buku ini. Tidak lupa, dengan membaca buku ini, kita akan semakin bangga dengan Indonesia kita ini karena angklung yang hanya dari sebuah bambu dapat menaklukan hati para warga Eropa.


Informasi Buku
Judul : 40 Days In Europe, Kisah Kelompok Musik Indonesia Menaklukan Daratan Eropa
Nama pengarang : Maulana M. Syuhada
Penerbit : PT. Bentang Pustaka
Tahun Terbit : 2007
Cetakan : Kedua
Harga : Rp 55.000,00

untuk mendownload ebooknya, silahkan klik disini
sumber resensi: _http://arindablog.wordpress.com/

Maulana M. Syuhada - Tentang Penulis 40 Days ini Europe

TENTANG PENULIS

Maulana M. Syuhada adalah pecinta seni yang punya hobi sekolah. Setelah lulus dari Teknik Industri ITB tahun 2001, ia pergi ke Jerman untuk melanjutkan pendidikan master di bidang Manajemen Produksi di Technische Universitaet Hamburg-Harburg. Selama tinggal di Jerman ia aktif terlibat di berbagai kegiatan seni dan budaya. Tahun 2002 ia mendirikan " Angklung-Orchester Hamburg", sebuah grup angklung kampus, dan berhasil menjaring mahasiswa asing yang berasal dari sepuluh negara berbeda.

Maulana M. Syuhada
Setahun kemudian bersama tiga rekan mahasiswa lainnya, ia membentuk grup Sabilulungan, sebuah grup kesenian Sunda amatir yang menspesialisasikan dirinya pada kacapi-suling dan rampak kendang. Maulana juga merupakan personil grup gamelan Margi Budoyo Hamburg dimana ia melakukan pentas bersama grup secara reguler. Ia merupakan salah satu konseptor “Wayang Kontemporer” yang dipentaskan untuk pertama kalinya di Eropa pada November 2003 pada Festival Gamelan di Berlin.

Pengalaman terbesarnya di bidang seni dan budaya adalah ketika memimpin Keluarga Paduan Angklung SMAN 3 Bandung (KPA 3) melakukan muhibah budaya ke enam negara Eropa selama 40 hari pada musim panas 2004, yang dikisahkannya dalam buku “40 Days in Europe” ini. Sejak tahun 2005 ia tinggal di Inggris untuk melanjutkan pendidikan doktor di bidang Management Science di Lancaster University Management School.

Rabu, 23 Februari 2011

40 Days in Europe - Download Ebook

Download ebook 40 Days in Europe - Maulana M. Subhan
Download ebook berjudul : 40 Days in Europe karya Maulana M. Syuhada.
download disini.

Mau baca resensi dulu sebelum mendownload? baca disini

Selasa, 22 Februari 2011

Download Ebook "Rumus Rahasia Bikin Duit"


Harga: (di web lain dijual Rp 240.000)Download Ebook "Rahasia Bikin Duit Paling Terkenal di Indonesia" E-book yang satu ini mengulas secara tuntas bagaimana caranya atau rahasianya bikinduit dari internet, menghasilkan uang jutaan per hari sampai puluhan juta perbulan. ebook ini dibanderol seharga Rp 240.000 tidak percaya? silahkan saja klik bikinduit.com untuk melihat harganya, Jika anda

Komik Naruto Terbaru, download komik naruto

Komik naruto terbaru tersedia disini,, Klik Link dibawah Ini untuk Download Komik Naruto Terbaru Bahasa indonesia. Disini Tersedia list Komik Naruto Terbaru (15 List Terbaru), Diupdate selalu kalau memang ada komik naruto terbaru yang paling baru.Komik Naruto 520Komik Naruto 519Komik Naruto 518Komik Naruto 517 Komik Naruto 516 Komik Naruto 515 Komik Naruto 514 Komik Naruto 513 Komik Naruto 512