Minggu, 19 September 2010

Dwilogi Padang Bulan dan Andrea Hirata yang Kejam

Andrea Hirata tampil lebih gila dan kejam dalam dwilogi Padang Bulan (entah bagaimana aksinya pada Cinta di Dalam Gelas). Sebelum mampu menaksir arah atau alur cerita, dia sudah membunuh seseorang dengan sangat menyedihkan, Ayah Enong mati tertimbun, kematian Ayah Enong sungguh menyisakan kesan yang sangat dramatis. Dan kegilaan Andrea Hirata semakin menguasai saya.

Drama penuh kesedihan dan kesengsaraan Andrea tidak terus berlanjut hingga akhir ceriteranya di Padang Bulan, ia meletakkan kisah tentang percintaan Ikal dan A Ling, dan kisah yang diceritakan persoalan cinta mereka sangat besar porsinya.

pembaca akan berpikiran bahwa Padang Bulan adalah novel yang akan membicarakan kenyataan hidup yang menyedihkan, kisah kehidupan Enong sebagai Pendulang Timah wanita pertama, atau kisan tentang Bahasa Inggris yang diminati Enong. Tapi ternyata tidak, tidak sama sekali.

Andrea Hirata sangat kejam, ia membunuh seorang yang berhati mulia (ayah Enong) untuk menarik simpati pembaca agar semua ceriteranya habis terbaca. Disinilah kegilaan Anrea dalam pikiran saya, bahwa Andrea tidak lagi mengacuhkan mana kesedihan, mana kesengsaraan, mana cinta, mana perhatian kasih sayang, mana kebahagiaan, dan dimana api pembangkit semangat. ia mencampur-aduknya menjadi satu dalam kenyataan sebuah novel.

Disini pulalah kekaguman saya dengan Andrea, Sangat picik dalam menyampaikan cerita menjadikan saya merasa lelah karena terombang ambing oleh perasaan yang menghantam saya saat menemukan kalimat baru yang sangat menarik. Diaantara kalimat-kalimat yang dihamburkan Andrea, hati saya mendapati tiga kata bahasa Inggris yang sangat berkesan, yaitu Sacrifice, Honesty, Freedome.
Bukan karena kata itu baru aku tahu artinya sebagaimana Enong, bukan pula karena saya memang senang dengan kata-kata yang mengandung nuansa perlawanan, namun karena kata itu ditembakkan oleh andrea kepada saya pada saat yang tepat, perlu diingan bahwa kadang sesuatu itu tergantung pada ketepatan waktu bukan takdir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar